Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Video yang memperlihatkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Cibungur 2, Kota Sukabumi, yang beredar di media sosial dan menuai perhatian publik, mendapat tanggapan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Limusnunggal 2.
Kepala SPPG Limusnunggal 2, Nugraha, menjelaskan bahwa persoalan tersebut terjadi akibat adanya miskomunikasi antara pihak penyelenggara program dengan penerima manfaat terkait jenis makanan yang disajikan.
Saat dikonfirmasi mengenai video yang viral tersebut, Nugraha mengatakan bahwa makanan yang disebut dalam video sebagai oncom sebenarnya merupakan daging giling yang diolah bersama buncis.
“Kalau terkait video viral kemarin di SD Cibungur 2, itu sebenarnya miskomunikasi antara penerima manfaat dengan pihak kami. Menu yang disampaikan di label adalah daging giling dengan buncis. Namun, ketika dilihat secara langsung, tampilannya mungkin terlihat seperti oncom,” ujar Nugraha.
Menurutnya, bahan makanan yang diberikan tetap sesuai dengan menu yang tercantum pada label. Ia menegaskan bahwa makanan tersebut bukanlah oncom, melainkan daging giling yang dicampur dengan buncis potong.
“Memang tampilannya saja yang seperti itu. Tetapi sebenarnya itu daging giling dengan buncis. Kami juga sudah melakukan koordinasi dan klarifikasi dengan pihak sekolah mengenai menu yang diberikan,” jelasnya.
Nugraha menambahkan, dalam paket makanan yang menjadi sorotan tersebut juga terdapat sejumlah menu lainnya, seperti saus, tahu, dan buah semangka.
Pihak SPPG, kata dia, telah memberikan penjelasan kepada pihak sekolah dan melakukan evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
“Sudah kami klarifikasi dan koordinasikan. Ke depan ini juga menjadi evaluasi bagi kami, terutama terkait penyampaian menu agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat,” katanya.
Penyaluran MBG Tetap Berjalan
Terkait adanya informasi mengenai penolakan makanan oleh sejumlah orang tua siswa, Nugraha menegaskan bahwa penolakan tersebut tidak mewakili seluruh pihak sekolah.
Menurutnya, penolakan hanya dilakukan oleh beberapa pihak dan tidak berarti sekolah secara keseluruhan menghentikan atau menolak program MBG.
“Kalau sebenarnya, itu hanya penolakan dari beberapa pihak. Tidak mengarah kepada secara umum sekolah menolak. Jadi kami tetap melanjutkan penyaluran seperti biasa,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan pihak SPPG tetap terbuka terhadap berbagai masukan dari sekolah maupun penerima manfaat. Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelaksanaan program MBG.
“Kami tetap menerima masukan-masukan yang disampaikan. Kalau ada hal yang perlu diperbaiki, tentu akan menjadi evaluasi bagi kami,” ujarnya.
Nugraha kembali menegaskan bahwa persoalan yang muncul dalam video tersebut, menurut pihak SPPG, lebih disebabkan oleh perbedaan persepsi terhadap tampilan makanan dengan keterangan menu yang tercantum.
“Sudah dijelaskan kepada pihak sekolah bahwa apa yang kami berikan sesuai dengan label menu yang sudah ada,” pungkasnya.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, pihak SPPG Limusnunggal 2 menyatakan penyaluran MBG di sekolah tersebut tetap berjalan, sementara evaluasi terhadap penyampaian dan tampilan menu akan dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman serupa. (fal)





