Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Miris. Di usia 73 tahun, Udin, warga Kampung Ciseureuh Talang, RT 04/RW 13, Kota Sukabumi, masih harus bekerja sebagai buruh steam motor demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Udin mengaku hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per hari. Penghasilan tersebut pun tidak selalu didapatkannya. Ketika musim kemarau dan pelanggan steam motor berkurang, pendapatannya ikut merosot.
Di tengah kondisi tersebut, Udin mengaku dirinya justru tidak menerima Bantuan Pangan (Bapang). Ia menyebut berdasarkan informasi yang diterimanya, dirinya masuk dalam kategori desil 6 sehingga tidak tercatat sebagai penerima bantuan.
Kondisi itu membuat Udin mempertanyakan kembali ketepatan pendataan penerima bantuan sosial. Sebab, menurutnya, kondisi ekonomi warga di lapangan belum tentu sepenuhnya tergambarkan hanya melalui kategori desil.
“Saya sempat datang ke kelurahan menanyakan terkait Bapang atau bantuan pangan. Dari pihak kelurahan menyebutkan saya masuk desil 6, sehingga tidak mendapatkan bantuan,” ujar Udin.
Udin mengaku kecewa ketika melihat masih ada masyarakat yang dinilainya memiliki kondisi ekonomi lebih baik namun tetap mendapatkan bantuan, sementara dirinya yang sudah berusia lanjut dan berpenghasilan di bawah Rp50 ribu per hari tidak menerima bantuan pangan.
“Kalau merasa kecewa pasti kecewa. Yang masih muda dan punya penghasilan cukup bisa dapat, sedangkan saya yang penghasilan sehari di bawah Rp50 ribu tidak dapat,” ungkapnya.
Meski demikian, Udin tidak meminta perlakuan khusus. Ia hanya berharap pemerintah dan pihak terkait kembali turun melakukan verifikasi dan melihat secara langsung kondisi masyarakat yang tercatat dalam data penerima bantuan.
Menurutnya, bantuan sosial seharusnya benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan, terutama warga lanjut usia yang masih harus bekerja karena tidak memiliki penghasilan tetap.
“Saya berharap pihak terkait bisa meninjau kembali. Kalau memang saya tidak masuk penerima, setidaknya kondisi saya bisa dilihat dan diverifikasi lagi,” harapnya.
Udin menjadi salah satu gambaran warga lanjut usia yang masih berjuang mencari nafkah di tengah keterbatasan ekonomi. Di saat usia seharusnya menikmati masa tua, ia masih harus mengandalkan tenaga untuk mendapatkan penghasilan.
Kini, ia berharap pemerintah dapat memastikan proses pendataan dan penyaluran bantuan pangan dilakukan secara akurat, transparan, serta benar-benar berdasarkan kondisi masyarakat di lapangan. (fal)





