Hendar Soroti Akses Disabilitas di Makam Cut Nyak Dien, Suhud: Semua Berhak Mengenang Pahlawan

Anggota DPRD Kabupaten Sumedang Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hendar Ermawan saat bertemu dengan Ketua DPRD DKI Jakarta

Pewarta: Steven Gervan

Teropong Indonesia –, Ziarah Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya ke makam Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien di Kompleks Pemakaman Gunung Puyuh, Kabupaten Sumedang, Selasa (4/8/2026), bukan sekadar napak tilas sejarah.

Kunjungan tersebut kembali mengingatkan betapa besarnya nilai sejarah Cut Nyak Dien bagi bangsa Indonesia. Menteri Ekraf yang berasal dari Aceh itu hadir untuk memberikan penghormatan kepada sosok pejuang perempuan yang hingga kini menjadi simbol keberanian, keteguhan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Dalam kunjungannya, Teuku Riefky juga mengapresiasi masyarakat Sumedang yang selama ini turut menjaga dan merawat makam Cut Nyak Dien. Ia bahkan menegaskan bahwa Cut Nyak Dien bukan hanya milik masyarakat Aceh, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.

Namun, di balik nilai sejarah yang begitu besar tersebut, masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.

Sejumlah laporan dari pengunjung menyebutkan bahwa penyandang disabilitas pengguna kursi roda masih mengalami kesulitan untuk mengakses lokasi makam. Kondisi ini menjadi perhatian karena makam pahlawan seharusnya dapat dikunjungi oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Persoalan tersebut mendapat sorotan dari Anggota DPRD Kabupaten Sumedang Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hendar Ermawan.

Menurut Hendar, aksesibilitas bukan sekadar persoalan fasilitas tambahan, tetapi menyangkut kesetaraan hak masyarakat dalam menikmati ruang publik dan destinasi sejarah.

“Jangan sampai ada masyarakat yang ingin berziarah, mengenang jasa pahlawan, atau belajar sejarah, tetapi tidak bisa mencapai lokasi makam karena keterbatasan akses. Ini harus menjadi perhatian bersama,” kata Hendar.

Ia mendorong pemerintah dan pihak terkait melakukan evaluasi terhadap sarana menuju lokasi makam, khususnya bagi pengguna kursi roda, lansia, maupun masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus.

“Kalau kita ingin menjadikan makam Cut Nyak Dien sebagai destinasi sejarah dan budaya yang semakin dikenal, maka aspek aksesibilitas juga harus menjadi bagian dari pengembangannya,” ujarnya.

Suhud Alynudin: Jangan Sampai Sejarah Bisa Dikenang, Tapi Tidak Bisa Diakses

Persoalan tersebut juga mendapat perhatian Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin.

Menurut Suhud, pelestarian situs sejarah harus berjalan beriringan dengan pembangunan fasilitas yang inklusif. Nilai kepahlawanan Cut Nyak Dien, kata dia, seharusnya dapat dirasakan dan dipelajari oleh seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

“Tempat bersejarah adalah milik seluruh rakyat. Karena itu, akses untuk datang dan mengenang perjuangan para pahlawan juga harus bisa dirasakan semua kalangan. Jangan sampai sejarahnya kita jaga, tetapi akses untuk melihat dan mengenangnya justru masih terbatas,” ujar Suhud.

Ia menilai persoalan tersebut dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan secara bertahap, tanpa menghilangkan karakter dan nilai historis kawasan makam.

“Pembangunan fasilitas ramah disabilitas tidak harus mengubah nilai sejarah sebuah kawasan. Justru kita bisa mencari solusi yang tetap menjaga keaslian dan kesakralan tempat tersebut, tetapi memberikan kemudahan bagi pengguna kursi roda dan kelompok masyarakat lainnya,” katanya.

Suhud juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, pengelola kawasan, komunitas disabilitas, serta masyarakat dalam menentukan bentuk fasilitas yang tepat.

“Yang paling penting adalah mendengar langsung kebutuhan penyandang disabilitas. Jangan hanya membangun fasilitas berdasarkan asumsi. Libatkan mereka dalam proses perencanaan sehingga hasilnya benar-benar bisa digunakan,” tegasnya.

Momentum Membenahi Wisata Sejarah Sumedang

Kunjungan Menteri Ekraf ke makam Cut Nyak Dien sejatinya juga membawa pesan penting bagi pengembangan ekonomi kreatif Sumedang. Pemerintah pusat tengah mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, sejarah, dan warisan daerah.

Karena itu, pembenahan aksesibilitas dapat menjadi bagian dari upaya menjadikan kawasan sejarah Sumedang semakin inklusif sekaligus menarik bagi wisatawan.

Makam Cut Nyak Dien tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang pahlawan nasional. Lebih dari itu, kawasan tersebut merupakan ruang untuk mengenang perjuangan, menanamkan nilai nasionalisme, serta mempertemukan sejarah Aceh dan Sumedang dalam satu jejak perjuangan bangsa.

Kini, tantangannya adalah bagaimana memastikan setiap orang dapat datang, belajar, berziarah, dan mengenang Cut Nyak Dien tanpa terhalang kondisi fisik maupun keterbatasan fasilitas.

Sebab, menghormati jasa pahlawan bukan hanya dengan menjaga makamnya, tetapi juga dengan memastikan nilai perjuangannya dapat diakses dan diwariskan kepada seluruh generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *