Gang Bertabur Warna di Hujung Kulon, Saat Paving Blok Menjadi Kanvas Semangat Kemerdekaan RI

TEROPONG INDONESIA – Jalan setapak yang biasanya hanya berfungsi sebagai penahan tanah dan alas kaki kini berubah wajah seketika. Di sepanjang lorong sempit namun rapi di lingkungan Hujung Kulon, RT08/05, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, tak ada lagi paving blok yang tampak kusam dan seragam.

Setiap kepingnya kini menjelma kanvas berwarna, penuh goresan tinta dan cat yang bercerita tentang cinta tanah air, menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat yang sederhana namun membara.

Inisiatif indah ini bermula dari satu gagasan sederhana yang terlintas di benak Iim Agus Salim, salah seorang warga. Saat melihat paving blok di depan rumahnya yang tampak monoton dan berdebu, terbesit di benaknya sebuah pemikiran.

“Mengapa tidak kita beri warna agar lorong ini tak sekadar jalan lewat, tapi juga menjadi semangat yang kita lihat setiap hari,” kata Iim, Senin (10/8/2026).

Tanpa menunggu perintah dari atas atau bantuan anggaran besar, gagasan itu pun ditawarkannya kepada tetangga sekitar. Tak disangka, sambutan yang datang begitu hangat.

Satu per satu Kepala Keluarga di sepanjang gang itu menyatakan bersedia turut serta, bahkan sepakat menanggung seluruh biaya cat dan alat lukis secara swadaya.

“Patungannya sukarela, masing-masing Rp40bribu. Yang penting niatnya sama, menyambut kemerdekaan dengan karya tangan sendiri,” ujarnya.

Pekerjaan pun dimulai, tak ada seniman ahli yang didatangkan dari jauh. Yang memegang kuas itu warga sendiri, mulai bapak-bapak, pemuda, hingga ibu-ibu dan anak-anak yang ingin ikut mencurahkan rasa lewat goresan.

Ada yang terlihat canggung memegang kuas, ada pula yang begitu luwes seolah sudah terlatih puluhan tahun. Tak ada yang merasa malu jika hasil lukisannya belum sempurna. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya begitu hidup dan berkesan.

Yang menarik, setiap pola yang terlukis di atas paving blok tidak dibuat asal jadi. Ada yang melukis logo HUT RI ke-81. Ada yang menggambar bendera Merah Putih berkibar gagah.

Tak ketinggalan, tokoh kartun favorit anak-anak bertema kemerdekaan tersusun rapi di sepanjang sisi jalan. Setiap langkah yang melintas seakan membaca lembaran cerita kebangsaan yang tak pernah usang.

“Setiap hari kami melintas di sini, berangkat kerja, pulang beraktivitas. Kalau yang dilihat hanya batu abu-abu, ya hatipun terasa biasa saja. Tapi sekarang? Sekali melangkah, mata langsung disambut warna-warni,” paparnya.

“Rasanya semangat dan bangga menjadi bagian dari bangsa ini tumbuh lagi di hati,” ungkapnya.

Kegiatan ini pun menjadi pengikat persaudaraan yang tak terduga. Di hari-hari pengerjaan, suasana gang terasa begitu hangat. Ada yang membawa air minum untuk rekan-rekan pelukis, ada yang menyediakan camilan sederhana, ada pula yang sibuk memastikan cat tidak menetes ke tempat yang keliru. Batas halaman rumah seakan tak lagi terlihat. Semua menjadi milik bersama, dikerjakan bersama dan dinikmati bersama.

Iim menuturkan, pemilihan paving blok sebagai media lukis bukan tanpa alasan. Selain bentuknya yang beraturan dan memudahkan pembagian gambar, ia ingin warga menyadari bahwa ungkapan cinta kepada tanah air tak harus selalu lewat hal-hal yang megah dan mahal.

“Cukup dengan apa yang ada di depan mata kita. Batu yang kita pijak setiap hari pun bisa menjadi bukti kasih kita kepada negeri, asal kita berkenan memberi sedikit warna dan waktu,” tuturnya.

Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pembelian cat, kuas, serta perlengkapan pendukung murni berasal dari iuran sukarela warga. Tidak ada sepeser pun anggaran yang diambil dari bantuan pemerintah atau pihak lain.

Justru karena dibiayai dengan keringat sendiri, rasa memiliki warga terhadap hasil karya ini menjadi jauh lebih besar. Setiap goresan seakan dijaga dan dihargai, tak ada yang berani merusak atau mengotori.

“Sebenarnya kami pun tidak menyangka gagasan sederhana ini bisa terwujud secepat dan seindah ini,” ujarnya.

“Artinya, keinginan warga untuk berbuat baik dan menghormati hari kemerdekaan itu memang sudah ada di hati. Tinggal bagaimana menyatukan langkahnya,” tambahnya.

Bagi warga yang tinggal di sana, kehadiran lukisan-lukisan itu membawa perubahan yang terasa nyata. Dulu, anak-anak sering bermain di atas paving blok dengan berlari-lari tanpa tujuan.

Kini, mereka sesekali berhenti, menatap gambar yang ada di bawah kakinya, lalu bertanya kepada orang tua: “Itu gambar apa, Bu? Apa maknanya?” Tanpa disadari, lorong itu kini menjadi ruang belajar kebangsaan yang hidup dan terbuka.

Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan, suasana di lingkungan Hujung Kulon pun terasa semakin istimewa. Tak ada pesta besar atau hiburan mewah. Yang ada hanyalah lorong berwarna-warni yang memancarkan kehangatan kebersamaan.

“Setiap kali melintas, warga seakan diingatkan kembali bahwa kemerdekaan yang dirayakan saat ini adalah buah dari perjuangan dan kebersamaan, persis seperti yang mereka tunjukkan hari ini,” ucapnya.

Iim berharap, semangat yang telah terlukis di atas batu-batu itu tidak akan pudar terbawa waktu. Meski nanti catnya perlahan memudar terik dan hujan, ia berharap semangat gotong royong dan cinta kepada tanah air tetap melekat kuat di hati setiap warga.

“Biarpun catnya lama-lama habis, tapi kalau semangatnya tetap ada, kapan saja kami siap melukisnya kembali,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *