Ragam  

Hotel Tjimahi, Warisan Seabad di Jantung Kota yang Kini Menunggu Takdir

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Di tengah riuh kendaraan yang melintas di jalur nasional Jalan Jenderal Amir Mahmud, sebuah bangunan tua berdiri tenang, seolah tak terusik zaman. Plang bertuliskan “Hotel Tjimahi” dengan ejaan lama menjadi penanda bahwa tempat ini bukan sekadar penginapan biasa. Ia adalah saksi hidup perjalanan bangsa, yang kini berada di persimpangan sejarahnya sendiri.

Tak banyak yang tahu, di balik dinding-dinding kokoh hotel yang akan genap berusia 99 tahun ini, pernah singgah tokoh-tokoh penting republik. Salah satunya mendiang Ani Yudhoyono, istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Bersama sang ayah, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, Ani pernah menjadi tamu istimewa di hotel ini sebuah kisah yang nyaris terkubur oleh waktu.

Kisah itu dituturkan langsung oleh Theresia Gerungan Soetamanggala, pemilik Hotel Tjimahi saat ini, generasi ketiga dari keluarga pendiri. Saat ditemui Rabu (7/1/2025), Theresia mengajak menyusuri lorong sejarah bangunan yang awalnya merupakan rumah tinggal keluarga, dikenal sebagai Wisma Pension atau Losmen Cimahi, sebelum resmi beroperasi sebagai Hotel Tjimahi pada 1927.

Namun jejak sejarahnya bahkan jauh lebih tua. Hotel ini dibangun pada era kolonial oleh pasangan Nyi Raden Fatimah Singawinata dan seorang Belanda bernama Veen. Sejak saat itu, bangunan ini melewati pergantian zaman dan rezim dari kolonialisme, kemerdekaan, hingga Indonesia modern yang kini menyambut generasi Alpha.

Hotel Tjimahi juga menjadi saksi bisu peristiwa kelam sejarah bangsa. Saat pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) meletus, Raymond Westerling dan pasukannya pernah singgah di tempat ini. Semua itu meninggalkan jejak yang masih terjaga, bukan hanya dalam cerita, tetapi juga pada struktur bangunan yang nyaris tak berubah.

Sayangnya, rangkaian sejarah panjang itu kini terancam terhenti. Kabar rencana penjualan Hotel Tjimahi menyeruak ke publik, menyebar cepat melalui media sosial. Sebuah unggahan di TikTok bahkan menyebutkan angka Rp35 miliar sebagai nilai yang ditawarkan untuk lahan seluas 3.254 meter persegi tersebut.

Bagi Theresia, keputusan ini bukan perkara mudah. Ia berada dalam dilema besar antara menjaga warisan keluarga yang sarat kenangan dan menghadapi realitas beban operasional yang terus menekan.

“Semua juga bilang jangan, sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah enggak kuat lagi. Sudah eungap lah ya,” ucapnya lirih, menggunakan ungkapan Sunda yang berarti lelah lahir batin.

Biaya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) saja, kata Theresia, mencapai sedikitnya Rp60 juta per tahun karena kawasan tersebut tergolong premium. Sementara anak-anaknya telah memiliki jalan hidup masing-masing dan tak lagi meneruskan pengelolaan hotel.

Masa paling berat ia rasakan saat pandemi Covid-19 melanda. Operasional hotel terpaksa ditutup, namun Theresia memilih tetap menggaji para pegawainya. Ia mengaku tak mendapat bantuan dari pemerintah daerah, bahkan sempat dikenai denda saat mengajukan keringanan pajak.

“Teman saya di Tangerang dapat diskon PBB sampai 30 persen. Saya ke pemkot malah didenda,” kenangnya.

Butuh waktu enam tahun bagi Theresia untuk menguatkan hati melepas bangunan yang telah dijaga lintas generasi itu. Meski demikian, satu harapan masih ia genggam: siapa pun pemilik berikutnya, ia berharap Hotel Tjimahi tak dirombak dan kehilangan ruh sejarahnya.

“Atau kalau ada investor yang mau bantu, saya sangat terbuka dengan segala opsi,” ujarnya.

Kini, Hotel Tjimahi berdiri di antara masa lalu dan masa depan menunggu apakah ia akan tetap menjadi saksi sejarah, atau berubah menjadi cerita yang hanya hidup dalam ingatan. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *