Menurut Iwan, karakteristik puncak antiklin merupakan zona lemah dan umumnya mengalami peretakan maupun perekahan sehingga memungkinkan gas biogenic maupun termogenik dari formasi di bawahnya (Formasi Cisubuh) untuk dapat menyusup keluar.
Di sisi lain, dari karakter seismik dapat dilihat bahwa formasi Cisubuh dan formasi di bawahnya memiliki zona-zona bright spot yang berpotensi mengandung gas yang memiliki tekanan yang dapat berpotensi menyemburkan gas apabila kestabilan batuan penutupnya (endapan kuarter dan vulkanik) terganggu kesetimbangannya oleh faktor alami maupun aktifitas manusia.
“Batuan kuarter dan vulkanik yang dapat menahan keluarnya gas pada daerah semburan relatif tipis (200 meter) dan rentan terhadap potensi semburan,” jelasnya.
Dengan demikian, Iwan menyarankan pengambilan sampel gas untuk menentukan karakteristik gas tersebut apakah biogenik, termogenik atau campuran keduanya.
Dari karakteristik tersebut dapat ditentukan sumber gasnya, baik berupa kantong gas dangkal yang bersifat biogenik atau gas dalam termogenik yang terakumulasi dan terjebak di bawah antiklin KM 88B.
“Hal ini perlu dilakukan terkait dengan durasi dan besarnya semburan gas yang diperlukan untuk penanganan semburan serta antisipasi resiko di kemudian hari,” tandasnya.
Di samping itu, Iwan menyampaikan, perlunya dilakukan pemetaan potensi gas biogenik pada daerah Jawa Barat Utara terkait dengan risiko kebencanaan pengeboran sumur air dan aktivitas lainnya, serta pemanfaatan gas biogenik ini untuk kepentingan masyarakat secara lebih luas.
“Perlunya pengamanan lokasi di sekitar semburan karena risikonya besar untuk adanya aktivitas di sekitar lokasi semburan sampai dengan semburan berhenti atau termitigasi secara teknik,” tuturnya.
Sementara itu, mitigasi terkait semburan gas diperlukan fasilitas standar yang memadai baik berupa pembuatan flare maupun plugging dan sementing sesuai dengan kondisi teknis yang terbaik. (Red/Bisnis.com).*





