Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Langit masih gelap ketika aktivitas di Lapangan Apel Pemkot Cimahi mulai menggeliat. Rabu (18/3/2026) pukul 04.00 WIB, deretan 15 bus sudah terparkir rapi. Mesin-mesin dinyalakan, bersiap mengantar ratusan warga pulang ke kampung halaman.
Program bertajuk Mudik Hepi 2026 ini kembali menjadi harapan di tengah sulitnya mendapatkan tiket dan melonjaknya biaya transportasi menjelang Lebaran.
Dua jam berselang, suasana berubah drastis. Pukul 06.00 WIB, lokasi dipenuhi warga yang datang silih berganti. Tas besar, kardus berisi oleh-oleh, hingga koper terlihat menumpuk di sisi bus. Beberapa peserta tampak dipeluk keluarga yang mengantar, menghadirkan suasana hangat yang bercampur haru.
Di tengah keramaian itu, Bedjo (50) terlihat sibuk memastikan barang bawaannya siap diangkut. Ia mengaku program ini sangat membantu, terutama saat tiket transportasi umum kian sulit dijangkau.
“Buat masyarakat ini sangat membantu sekali, apalagi sekarang kan untuk mencari tiket kereta juga susah ya,” ujarnya.
Program mudik gratis ini membuka dua jalur utama. Jalur selatan melayani rute Cimahi–Solo via Yogyakarta, sementara jalur utara melintasi Cimahi–Semarang melalui Cirebon. Rute tersebut dipilih untuk menjangkau lebih banyak pemudik menuju berbagai daerah di Pulau Jawa.
Bagi Gunara, peserta lainnya, program ini bukan sekadar fasilitas perjalanan. Ini adalah jembatan untuk kembali berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.
Ia akan menuju Kebumen, menyusul sang istri yang lebih dulu pulang. Meski berangkat belakangan, semangatnya tak surut.
“Sangat membantu sekali, saya juga akan mudik ke Kebumen dan dengan adanya program mudik ini ya saya antusias lah,” katanya.
Perjalanan kali ini terasa berbeda. Gunara tak sendiri ia ditemani kakaknya yang memiliki tujuan serupa.
“Dua orang, dengan kakak saya. Kebetulan kakak saya istrinya juga orang sana, jadi nanti bareng,” tuturnya.
Gunara juga mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan. Dari proses pendaftaran hingga fasilitas armada, semuanya dinilai berjalan lancar.
“Pendaftarannya baik, semuanya baik. Termasuk fasilitasnya juga sangat nyaman, pas saya masuk ke bus juga memang nyaman,” ungkapnya.
Bukan kali pertama ia mengikuti program ini. Tahun sebelumnya, ia bahkan sempat ikut lebih dari sekali.
“Tahun kemarin saya sudah dua kali. Tahun kemarin ikut, sekarang juga ikut,” katanya.
Bagi Gunara, mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Ada makna yang lebih dalam tentang keluarga, kebersamaan, dan momen Lebaran yang tak tergantikan.
Ia pun mengapresiasi konsistensi pemerintah daerah yang terus menghadirkan program ini setiap tahun.
“Program ini patut diapresiasi karena memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Antusiasme warga sejak dini hari menjadi bukti bahwa program mudik gratis masih sangat dibutuhkan. Di tengah tekanan ekonomi dan keterbatasan transportasi, kehadiran program ini menjadi solusi nyata.
Tak hanya meringankan biaya, aspek keamanan juga menjadi perhatian. Seluruh armada telah melalui pemeriksaan, termasuk kondisi kesehatan para pengemudi.
Gunara pun optimistis perjalanan tahun ini akan berjalan lancar, seperti pengalaman sebelumnya.
“Insyaallah semuanya aman karena busnya juga sudah dicek sebelumnya, para supir juga sudah dicek kesehatannya. Dari tahun-tahun sebelumnya juga Alhamdulillah berjalan dengan lancar,” tandasnya.
Di tengah riuh keberangkatan pagi itu, satu hal terasa jelas mudik bukan sekadar perjalanan. Ia adalah tentang pulang, tentang rindu yang ditunaikan, dan tentang kebahagiaan yang akhirnya sampai di tujuan. (Gani Abdul Rahman)





