Perjuangan Ayatullah Rohullah Khomaeni : Sebuah Refleksi Islam

Ayatullah R Khomeni. (Foto.dok).*

Oleh: Akhmad Sobarna, Guru Besar Pendidikan Olahraga, STKIP Pasundan

Ayatullah Rohullah Khomenei, Pemimpin Tertinggi Negara Iran, telah memimpin perjuangan melawan Israel dan Amerika dengan menggunakan teknologi canggih untuk melawan ketidakadilan. Perjuangan ini merupakan upaya untuk mempertahankan keadilan dan kebenaran, serta melawan penindasan. Dalam konteks ini, Ayatullah Khomenei telah menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menghadapi musuh-musuh Islam, sehingga menjadi inspirasi bagi umat Islam di seluruh dunia.

Keadilan dan Kebenaran dalam Islam

Dalam Islam, keadilan dan kebenaran adalah nilai-nilai yang sangat penting. Al-Quran berfirman:
“Wa qul ja’a l-haqqu wa zahaqa l-batilu inna l-batila kana zahuqa”
(QS. Al-Isra’: 81)
Artinya: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap, sesungguhnya kebatilan itu adalah yang lenyap’.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran akan selalu menang atas kebatilan. Oleh karena itu, perjuangan Ayatullah Khomenei dapat dilihat sebagai perjuangan yang sesuai dengan ajaran Islam, dan kita harus percaya bahwa Allah akan selalu mendukung perjuangan kita.

Melawan Kemungkaran dan Kezaliman

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Man ra’a munkaran fa-layuyghayyirhu bi-yadihi, fa-in lam yastati’ fa-bi-lisani, fa-in lam yastati’ fa-bi-qalbi, wa-dhalika ad’afu l-imani”
(Shahih Muslim, No. 49)
Artinya: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
Hadis ini menunjukkan bahwa kita harus berusaha untuk melawan kemungkaran dan kezaliman. Perjuangan Ayatullah Khomenei dapat dilihat sebagai contoh dari upaya untuk melawan kemungkaran dan kezaliman. Namun, perlu diingat bahwa perjuangan ini harus dilakukan dengan cara yang damai dan sesuai dengan ajaran Islam.

Estafet Kepemimpinan: Dari Ayatullah Khomenei ke Ali Khamenei

Setelah Ayatullah Khomenei meninggal pada 3 Juni 1989, kepemimpinan Iran diteruskan oleh Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Iran. Ali Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Majelis Ahli Iran, dan ia telah memimpin Iran selama beberapa dekade.

Ali Khamenei telah melanjutkan perjuangan Ayatullah Khomenei dalam melawan Israel dan Amerika, serta mempertahankan keadilan dan kebenaran. Ia juga telah memperkuat program nuklir Iran dan meningkatkan kekuatan militer negara tersebut.

Kematian Ali Khamenei

Ali Khamenei meninggal pada 28 Februari 2026 dalam serangan gabungan Israel-Amerika Serikat ke Iran. Serangan ini juga menewaskan beberapa pejabat tinggi Iran dan keluarga Khamenei, termasuk putri, menantu laki-laki, cucu, dan menantu perempuan.

Perjuangan Ali Khamenei merupakan kelanjutan dari perjuangan Ayatullah Khomenei, dan menunjukkan bahwa semangat perjuangan umat Islam tidak akan pernah mati. Meskipun Ali Khamenei telah meninggal, namun perjuangannya akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi umat Islam di seluruh dunia.

Referensi:

– Al-Quran
– Shahih Muslim, No. 49
– Al-Farabi, Abu Nasr (870-950 M), “Kitab al-Huruf”, Beirut: Dar al-Mashriq, 1990.
– Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail (810-870 M), “Sahih Al-Bukhari”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
– Ibn Sina, Abu Ali (980-1037 M), “Al-Shifa’”, Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyah, 1960.
– Malik bin Anas (711-795 M), “Al-Muwatta’”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
– Muslim, Ibn al-Hajjaj (821-875 M), “Sahih Muslim”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
– Al-Syafei, Muhammad bin Idris (767-820 M), “Al-Umm”, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1990.
– Al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa (824-892 M), “Sunan Al-Tirmidzi”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
– Ibn Kathir, Ismail bin Umar (1301-1373 M), “Tafsir Ibn Kathir”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
– Ibn Taymiyah, Taqi al-Din (1263-1328 M), “Majmu’ al-Fatawa”, Riyadh: Dar al-Watan, 1995.
– Al-Ghazali, Abu Hamid (1058-1111 M), “Ihya’ Ulum al-Din”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.
– Ibn Rushd, Abu al-Walid (1126-1198 M), “Bidayat al-Mujtahid”, Beirut: Dar al-Fikr, 1992.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *