Cimahi Dikepung Banjir, Warga Tuding Penyempitan Sungai Akibat Bangunan Liar Jadi Biang Keladi

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Cimahi sejak Minggu sore (28/12/2025) pukul 15.00 WIB. Meski intensitas hujan mulai melandai pada pukul 17.25 WIB, durasi hujan yang cukup lama telah menyebabkan banjir meluap di sejumlah titik krusial.

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa lokasi yang terendam banjir meliputi: Jalan Usman Dhomiri (RW 03 dan RW 19, Kelurahan Padasuka), Jalan Mahar Martanegara, Kampung Pojok Selatan (Kelurahan Setiamanah), Kawasan Cimindi (Cimahi Selatan, sekitar Pasar Tradisional Cimindi)

Kawasan Cimindi kembali menjadi sorotan setelah debit air meluap dengan cepat ke jalanan. Asep Jefry (43), salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa fenomena banjir ini bukan lagi hal baru, melainkan masalah menahun yang dipicu oleh rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS).

Asep menegaskan bahwa penyebab utama banjir di wilayahnya bukan semata-mata karena sumbatan sampah, melainkan ketidakseimbangan antara volume air dari hulu dengan kapasitas sungai yang kian menyempit.

“Intinya sungai sudah tidak mampu mengalirkan air secara maksimal. Ada ketidakseimbangan antara volume air dari hulu dengan media alirnya,” ujar Asep saat ditemui di lokasi.

Lebih lanjut, Asep menyoroti banyaknya bangunan yang berdiri di atas badan sungai, terutama di area belakang Pasar Cimindi. Menurutnya, bangunan-bangunan tersebut telah memakan lebih dari separuh lebar sungai, sehingga terjadi penyempitan yang sangat signifikan.

“Penyebab yang paling signifikan itu penyempitan sungai akibat bangunan liar. Di belakang Pasar Cimindi itu belum tersentuh (penertiban), padahal penyempitannya parah, sampai memakan badan sungai,” tegasnya.

Kekesalan warga kian memuncak karena titik ini seringkali viral di media sosial seperti Instagram dan TikTok setiap kali banjir melanda, namun solusi konkret belum kunjung terlihat.

Warga kini mendesak pemerintah setempat untuk segera melakukan langkah nyata, mulai dari normalisasi sungai hingga penertiban bangunan di sepanjang DAS.

“Sudah puluhan tahun seperti ini. Kami sudah ‘kaluman’ (bosan dan kesal). Kami minta pemerintah gerak cepat memulihkan fungsi sungai ke asalnya,” pungkas Asep. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *