Anggaran Terbatas, Perencanaan dan Kolaborasi Jadi Fokus Utama

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Di tengah keterbatasan anggaran pada tahun 2026, Pemerintah Kota Cimahi menegaskan bahwa pembangunan kebudayaan tetap menjadi agenda strategis.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Cimahi, Raden Lucky Sugih Mauludin, memastikan bahwa langkah pemajuan kebudayaan akan difokuskan pada penguatan dokumen perencanaan serta perluasan kolaborasi lintas-sektor, termasuk dalam pelestarian aksara Sunda.

Lucky menjelaskan bahwa penyusunan Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) akan menjadi salah satu pilar penting untuk memastikan arah kebijakan kebudayaan tetap terencana meski anggaran terbatas.

Penyusunan dokumen ini akan dilakukan melalui sinergi antara pemerintah daerah, pihak independen, dan Dewan Kesenian Kota Cimahi (DKKC).

“Walaupun anggaran terbatas, pelayanan informasi dan perencanaan kebudayaan tidak boleh berhenti. PPKD akan disusun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Selain PPKD, Cimahi juga memperkuat Indeks Pemajuan Kebudayaan (IPK) sebagai alat ukur perkembangan kebudayaan daerah.

Kedua instrumen ini disebut Raden Lucky sebagai fondasi penting untuk memastikan pembangunan kebudayaan berjalan terarah dan berkelanjutan.

Terkait aksara Sunda, Lucky menegaskan komitmen Disbudparpora dalam memajukan pelestarian warisan budaya ini. Ia menyebut pelatihan aksara Sunda yang dilaksanakan DKKC bersama para ahli pada 2025 sebagai langkah positif yang kini mulai merambah dunia pendidikan, termasuk tingkat SMP.

“Kami terus mencari kolaborasi dengan pihak swasta maupun lembaga lain. Dengan keterbatasan anggaran, kami harus kreatif menjalin kemitraan agar misi pemajuan kebudayaan, termasuk aksara Sunda, tetap berjalan,” jelasnya.

Menurut Lucky, sektor swasta memiliki peluang besar untuk ikut berkontribusi, dan Disbudparpora siap membuka ruang komunikasi agar kolaborasi semakin mudah diwujudkan.

Ia menegaskan bahwa strategi kebudayaan Cimahi ke depan akan bertumpu pada penguatan dokumentasi, kolaborasi lintas-sektor, dan optimalisasi sumber daya yang ada.

Dengan pendekatan adaptif ini, Cimahi menargetkan pembangunan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan meski dihadapkan pada tantangan anggaran. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *