TEROPONG INDONESIA, Cimahi – Aksara Sunda yang dahulu digunakan oleh masyarakat Sunda pada masa kerajaan, merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah yang mendalam.
Tak cuma itu, sebagai simbol identitas bangsa, aksara Sunda juga mencerminkan kearifan lokal dan kebudayaan masyarakat Sunda yang kaya akan tradisi dan filosofi hidup.
Maestro Aksara Yudhistira Purana Sakhyakirti mengatakan, keberadaan aksara Sunda dapat ditemukan dalam berbagai prasasti kuno, seperti prasasti Batu Tulis, prasasti Kawali, dan prasasti Rumatak
“Itu menjadi bukti nyata peradaban tinggi masyarakat Sunda pada masa lalu,” kata Yudhistira saat ditemui, Jumat 30 Agustus 2025.
Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, jelas Yudhistira, aksara Sunda juga digunakan untuk menyimpan pengetahuan dan ajaran leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
“Pelestarian aksara Sunda di era modern terus berkembang. Pada tahun 1999, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan aksara Sunda Kuno sebagai bentuk pelestarian aksara ini,” jelasnya.
Menurutnya, upaya tersebut dimaksudkan untuk menghidupkan kembali aksara Sunda yang terpinggirkan oleh pengaruh aksara Latin.
“Saat ini buku-buku panduan serta pelatihan untuk mengenalkan aksara Sunda kepada generasi muda semakin banyak diadakan, salah satunya melalui kurikulum pendidikan yang telah memasukkan pembelajaran aksara Sunda di berbagai tingkat pendidikan,” bebernya.
Namun, Yudhistira tak memungkiri bahwa pelestarian aksara Sunda tidak terlepas dari tantangan, terutama di era digital ini, di mana penggunaan aksara Latin lebih dominan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, Yudhistira mengingatkan bahwa pelestarian aksara Sunda memerlukan upaya lebih keras dari seluruh pihak agar identitas budaya Sunda tetap hidup dan lestari.
“Meskipun ada berbagai tantangan, kami tetap optimistis bahwa aksara Sunda akan terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi mendatang,” imbuhnya.
“Dengan adanya upaya pelestarian yang serius dan dukungan dari berbagai pihak, aksara Sunda akan terus berkembang sebagai simbol kebanggaan dan identitas budaya masyarakat Sunda,” katanya.
Yudhistira berharap generasi muda yang kini mengenal aksara Sunda melalui lomba ini akan menjadi penjaga tradisi yang berperan penting dalam melestarikan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
“Saya ucapkan selamat kepada semua peserta yang telah berpartisipasi. Teruslah menulis dan berkarya, karena melalui aksara, kita dapat menjaga dan melestarikan warisan budaya kita,” ungkapnya. (Gani Abdul Rahman)





