Filosofi Kedermawanan Sang Burung Bersayap Patah di Kitab Ibnul Jauzi, Uyun Al-Hikayah

Penulis: Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin Makassar, Sumber:kemenag.go.id )

Saya menikmati betul kultum Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat kampus kami (UIN Alauddin Makassar), Dr. Muhsin Mahfud, beberapa hari lalu. Beliau memulai ceramahnya dengan kisah yang diangkat dari kitab Ibnul Jauzi, Uyun al-Hikayah, yang menceritakan perbincangan dua sahabat, Ibrahim dan Syiqaq.

Ibrahim bertanya kepada Syiqaq tentang pengalaman spiritual yang paling membekas pada dirinya. Syiqaq menjawab bahwa pernah suatu waktu, dia berjalan di tengah terik padang pasir yang sangat melelahkan. Melihat ada pohon, singgah lah dia untuk berteduh dan rebahan mengurai kelelahan, meski daunnya tidak terlalu rindang.

Tiba-tiba, tidak jauh dari posisinya berteduh, jatuh seekor burung. Setelah dilihat, ternyata salah satu sayapnya patah. Tak lama berselang, ada burung lain yang datang, lalu menyodorkan belalang kepada burung dengan sayap patah itu.

Syiqaq begitu terpengarah melihat fenomena itu. Syiqaq kemudian merenungkan hikmahnya bahwa betapa dalam kehidupan ini siapa saja makhluk, akan mendapatkan rezekinya yang sudah digariskan oleh Pencipta. Betapa burung yang tidak berdaya di tengah gurun, masih saja bisa mendapatkan rezeki belalang yang dibawakan tiba-tiba oleh burung lain.

Ibrahim merespon cerita Syiqaq dengan bertanya mengapa terkagum pada pada burung yang mendapat belalang itu, justeru bukan pada burung yang membawakan belalang. Syiqaq begitu kaget dengan pertanyaan Ibrahim yang tidak sempat dipikirkannya.

Menurut Dr. Muhsin, dua sahabat yang berdialog ini memiliki level spritualitas yang berbeda. Yang menyelami tentang burung yang mendapatkan belalang masih berada pada kesadaran internalisasi beragama, kesadaran tentang apa yang terjadi pada diri, penghambaan karena berkah, hidayah, kekuatan yang diberikan oleh Allah. Sementara yang satunya sudah berada pada aspek eksternalisasi diri, sebagai khalifah, sebagai manusia berdaya yang mampu membantu sesama dalam hal apa saja.

Baca Juga :  Seminar Nasional Pendidikan Vokasional, Kadisdik: Inovasi Serta Kreativitas Tak Bisa Digantikan AI

Hikayat di atas sangat cocok dikaitkan dengan pendakian spiritualitas kita di bulan Ramadan ini. Kita berpuasa untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, kepedulian, dan kedermawanan diri. Itu masih sebatas internalisasi nilai puasa ke dalam diri.

Bagaimana mengeksternalisasinya? Menjadi manusia seutuhnya, nilai-nilai yang terinternalisasi itu bergerak keluar untuk membentuk keutuhan diri. Eksternalisasi nilai itu kemudian menghadirkan manusia yang dalam kehidupan sosialnya tanpa kepura-puraan, tanpa topeng, tanpa “make-up”. Manusia yang “apa adanya” bukan “ada apanya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *