Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Semangat pelestarian budaya terasa kuat di jantung Kota Cimahi. Sebanyak 23 sanggar tari dari berbagai wilayah tampil memeriahkan peringatan Hari Tari Internasional yang digelar di kawasan pedestrian Alun-Alun Cimahi, Sabtu (02/05/2026).
Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudpar) serta Komite Tari Kota Cimahi. Alun-alun yang biasanya menjadi ruang aktivitas warga, disulap menjadi panggung terbuka penuh warna, gerak, dan semangat seni tradisi.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi, Yanti, mengatakan keberhasilan acara tersebut menjadi bukti bahwa para pelaku seni di Cimahi memiliki solidaritas dan kepedulian tinggi terhadap budaya daerah.
“Alhamdulillah, berkat kolaborasi dan semangat bersama, acara ini bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Menurut Yanti, peringatan Hari Tari Internasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk memperlihatkan kekuatan identitas budaya Kota Cimahi melalui karya seni tari.
Salah satu tarian yang menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut adalah Tari Campernik, tarian khas Kota Cimahi yang selama ini menjadi kebanggaan daerah. Penampilan tarian tersebut mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat yang hadir.
Yanti menegaskan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kawasan pedestrian Alun-Alun Cimahi sebagai ruang publik yang produktif, kreatif, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cimahi yang mendorong agar ruang publik dimanfaatkan untuk kegiatan positif, termasuk seni dan budaya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghidupkan kawasan pedestrian Alun-Alun Cimahi agar lebih dinamis dengan aktivitas seni dan budaya,” tambahnya.
Menariknya, seluruh rangkaian acara digelar tanpa pungutan biaya. Seluruh sanggar tari berpartisipasi secara sukarela sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memajukan seni dan budaya di Kota Cimahi.
Antusiasme warga yang memadati lokasi acara menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat masih memiliki kecintaan besar terhadap seni tradisi.
Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa ruang publik dapat menjadi sarana efektif mempererat kebersamaan sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (Gani Abdul Rahman)





