Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Pemerintah Kota Cimahi menempatkan tiga unit alat utama sistem senjata (alutsista) berupa Rudal Rapier di kawasan Bundaran Jati. Kehadiran alutsista tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai elemen estetika kota, tetapi juga sebagai simbol penegasan identitas historis Cimahi sebagai kota dengan jejak militer yang kuat, sekaligus bagian dari penataan ruang publik dan perbaikan lalu lintas.
Rudal Rapier dipasang di titik pertemuan Jalan Rd. Demang Hardjakusumah, Jalan Jati, dan Jalan Daeng Ardiwinata.
Lokasi tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu simpul lalu lintas tersibuk dan rawan kemacetan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa penempatan alutsista di ruang terbuka publik bukan sekadar ornamen kota. Menurutnya, Rudal Rapier memiliki nilai historis yang selaras dengan karakter Cimahi yang sejak era kolonial dikenal sebagai pusat pendidikan dan aktivitas militer.
“Penempatan ini kami ajukan kepada pimpinan Angkatan Darat dan alhamdulillah disetujui. Rudal Rapier ditempatkan untuk menghiasi taman-taman di Kota Cimahi sekaligus mengingatkan sejarah kota ini,” ujar Ngatiyana saat ditemui selepas Isra mi’raj Kamis, 22/01/2026.
Ia menjelaskan, alutsista yang dipasang merupakan peralatan pertahanan yang sudah tidak lagi digunakan oleh TNI. Daripada dibiarkan terbengkalai, pemanfaatannya di ruang publik dinilai lebih bermanfaat dan bernilai edukatif.
“Ini alutsista yang sudah tidak terpakai. Jadi lebih baik dimanfaatkan sebagai bagian dari ruang publik,” katanya.
Ngatiyana berharap keberadaan Rudal Rapier di Bundaran Jati dapat menjadi media edukasi sejarah, khususnya bagi generasi muda, agar memahami latar belakang Cimahi sebagai kota militer.
“Setidaknya ada pemahaman bahwa dulu Cimahi adalah kota militer, dan sejarah itu masih bisa kita lihat jejaknya hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo Mardani, menyampaikan bahwa pemasangan Rudal Rapier merupakan bagian dari konsep tematik pembangunan Bundaran Cihanjuang atau Bundaran Jati.
“Alutsista Rudal Rapier ini menjadi aksesoris sekaligus elemen tematik dari pembangunan Bundaran Cihanjuang,” jelas Amy.
Rudal Rapier yang dipasang merupakan buatan Inggris tahun 1984 dan dihibahkan oleh Pusat Persenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussenarhanud). Alutsista tersebut melengkapi penataan taman dan lanskap kawasan bundaran yang telah lebih dulu dibangun.
Pembangunan Bundaran Jati sendiri rampung pada akhir 2025 dengan anggaran sebesar Rp2.243.187.675 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Cimahi. Selain memperkuat identitas kawasan, proyek ini dirancang untuk mengurai kepadatan lalu lintas di pertemuan tiga ruas jalan utama.
Amy menegaskan, penguatan identitas militer melalui elemen ruang publik tidak diterapkan secara seragam di seluruh wilayah Cimahi.
“Sekitar 30 persen wilayah Cimahi memang memiliki nilai historis militer sejak zaman Belanda. Namun di titik lain, konsep tematiknya berbeda sesuai karakter kawasan,” katanya.
Secara historis, Cimahi memegang peran strategis sejak masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga perang kemerdekaan. Kawasan ini lama difungsikan sebagai tangsi dan pusat pendidikan militer, jejak yang hingga kini masih membentuk karakter kota.
Dari sisi infrastruktur, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cimahi mencatat proyek Bundaran Jati mencakup pembangunan jalan baru sepanjang 45 meter dengan lebar 7 meter, pelebaran Jalan Daeng Ardiwinata hingga 8,5 meter, serta pelebaran Jalan Rd. Demang Hardjakusumah sebesar 1,5 meter.
Selain itu, dibangun pula drainase sepanjang 164 meter dengan dimensi 0,8 × 0,8 meter, trotoar seluas 258 meter persegi, serta pulau jalan berbentuk bundaran.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Cimahi, M. Nur Effendi, menyatakan bahwa selesainya pembangunan bundaran memberikan dampak nyata terhadap kelancaran arus kendaraan.
“Dengan selesainya pembangunan bundaran ini, arus lalu lintas menjadi lebih tertata dan lancar,” ujarnya. (Gani Abdul Rahman





