Pemkot Cimahi Dihadapkan Ancaman Krisis Air Bersih, Sumur Warga Mulai Mengering

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Ancaman krisis air bersih mulai membayangi warga Kota Cimahi. Kemarau panjang menyebabkan debit air sumur bor dan sumur dangkal terus menyusut, sementara pasokan dari jaringan PDAM juga mulai berkurang.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Cimahi mulai menyalurkan bantuan 5.000 liter air bersih ke wilayah terdampak, salah satunya RT 02 RW 02, Kelurahan Karangmekar, Kamis (5/11/2026).

Satu unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Distribusi ini menjadi respons atas keluhan warga yang mulai kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Asisten Administrasi Umum Kota Cimahi, Mochamad Ronny, mengakui dampak kemarau panjang tahun ini cukup luar biasa. Bahkan, hujan yang mulai turun beberapa kali belum mampu memulihkan ketersediaan air di sumur-sumur dangkal milik masyarakat.

“Banyak warga yang memerlukan karena sumur bor ataupun dari PDAM sekarang akhirnya sudah mulai kurang. Meskipun hujan beberapa kali sudah turun, tetap sumur dangkal itu airnya belum keluar,” ungkap Ronny kepada awak media.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah. Sebab, persoalan air bersih menyangkut kebutuhan dasar masyarakat yang harus segera dipenuhi, terutama ketika sumber air yang selama ini diandalkan mulai tidak mencukupi.

Ronny memastikan distribusi bantuan tidak akan berhenti pada pengiriman pertama. Apabila 5.000 liter air yang disalurkan belum memenuhi kebutuhan warga, Pemkot Cimahi siap mengirimkan tambahan mobil tangki.

“Ini sesuai permintaan warga. Kalau kurang, misalnya kebutuhan air bersihnya masih kurang, akan kita kirim lagi tangki berikutnya,” tegasnya.

“Ya, kalau permintaan warga masih kurang, akan kita penuhi,” tambahnya.

Di sisi lain, Pemkot Cimahi juga menyiapkan solusi alternatif melalui pembangunan lima titik sumur artesis di wilayah Kelurahan Cibabat. Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan TNI dan diharapkan dapat memperkuat ketersediaan sumber air bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan itu juga bisa mengurangi atau bisa memenuhi kebutuhan air bersih,” kata Ronny.

Persoalan yang lebih mengkhawatirkan adalah penurunan muka air tanah di Kota Cimahi yang disebut mencapai hampir 15 sentimeter setiap tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman kekeringan bukan sekadar persoalan musiman, melainkan juga berkaitan dengan keberlanjutan cadangan air tanah.

Ronny menilai diperlukan keterlibatan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air tanah melalui langkah konservasi lingkungan. Salah satunya dengan memperbanyak sumur resapan dan lubang biopori agar air hujan dapat terserap kembali ke dalam tanah.

Ia berharap upaya tersebut mampu menekan laju penurunan muka air tanah sekaligus menjaga ketersediaan air bagi masyarakat yang masih mengandalkan sumur dangkal.

“Jadi ketersediaan air tanah kalau yang membuat sumur air dangkal bisa terpenuhi,” tandasnya.

Distribusi 5.000 liter air bersih memang menjadi langkah darurat untuk menjawab kebutuhan warga. Namun, dengan penurunan muka air tanah yang terus terjadi, Pemkot Cimahi dituntut tidak hanya bergerak ketika sumur warga mengering.

Penanganan jangka panjang, penguatan infrastruktur sumber air, serta konservasi lingkungan harus menjadi prioritas agar masyarakat tidak terus dihantui krisis air setiap musim kemarau. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *