Panggung Inklusif Cimahi, ASN dan Disabilitas Bersatu dalam Bahasa Teater

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Suasana Gedung Sangkuriang, Kota Cimahi, beberapa waktu lalu, tak sekadar menjadi panggung pertunjukan teater. Malam itu, ruang seni berubah menjadi simbol perjumpaan antara seniman, aparatur negara, dan para penyandang disabilitas yang selama ini kerap berada di pinggir panggung.

Dalam peringatan Hari Teater Dunia, batas-batas konvensional pertunjukan seakan diluruhkan. Di atas panggung, Aparatur Sipil Negara (ASN) tampil berdampingan dengan komunitas teater dan teman-teman disabilitas, menghadirkan pertunjukan musikal bertajuk “Cimahi Hepi Berekspresi”. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada batas kemampuan yang ada hanya ekspresi dan keberanian untuk tampil.

Di tengah sorot lampu, para penyandang disabilitas, termasuk komunitas tuli, menunjukkan bahwa bahasa tubuh, gerak, dan ekspresi mampu berbicara lebih kuat dari kata-kata. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian utuh dari narasi pertunjukan.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudistira, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi refleksi arah kota yang ingin dibangun inklusif dan terbuka bagi semua.

“Ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi pesan bahwa ruang berekspresi harus dimiliki semua orang. Kolaborasi antara ASN, seniman, dan komunitas disabilitas adalah bukti bahwa kita bisa berjalan bersama,” ujarnya.

Keterlibatan ASN dalam pertunjukan ini menjadi warna tersendiri. Mereka tidak hadir sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang turut merayakan seni. Keikutsertaan ini sekaligus menegaskan bahwa birokrasi tidak harus selalu kaku ia bisa hadir lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih membumi.

Sementara itu, bagi para penyandang disabilitas, panggung ini menjadi ruang yang jarang mereka dapatkan. Selama ini, keterbatasan akses terhadap fasilitas publik kerap menjadi penghalang untuk tampil dan berekspresi. Namun malam itu, mereka berdiri sejajar di panggung yang sama, dengan sorotan yang sama.

Di balik gemuruh tepuk tangan, terselip pesan yang lebih dalam inklusivitas bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang harus terus diperluas.

Meski demikian, pemerintah daerah mengakui bahwa tantangan masih ada. Ketersediaan ruang pertunjukan yang representatif di Cimahi masih terbatas. Tidak semua tempat ramah bagi seniman, terlebih bagi penyandang disabilitas.

Sebagai langkah ke depan, pemerintah mulai melirik optimalisasi ruang publik seperti alun-alun kota sebagai panggung alternatif. Konsep panggung terbuka dinilai mampu mendekatkan seni kepada masyarakat sekaligus memperluas akses bagi semua kalangan.

Peringatan Hari Teater Dunia di Cimahi tahun ini akhirnya bukan hanya soal pertunjukan. Ia menjadi cermin tentang bagaimana sebuah kota belajar membuka diri memberi ruang, menghapus batas, dan menghadirkan panggung yang benar-benar milik bersama. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *