Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Bagi sebagian besar orang, tong sampah adalah objek yang harus dijauhi karena identik dengan bau dan kekumuhan. Namun, pemandangan berbeda tersaji di Kota Cimahi. Di bawah sapuan kuas ratusan anak kreatif, benda-benda “buangan” tersebut disulap menjadi kanvas warna-warni yang memikat mata.
Melalui tajuk “FORKIS Peduli Lingkungan”, Forum Komunikasi Pelukis (FORKIS) Kota Cimahi berhasil mengawinkan seni rupa dengan misi lingkungan. Kegiatan yang melibatkan siswa dari jenjang TK hingga SMA ini bukan sekadar lomba kecantikan, melainkan sebuah gerakan mengubah paradigma masyarakat melalui visual.
Ketua Pelaksana FORKIS Peduli Lingkungan, Endang, menegaskan bahwa ada nilai edukasi yang jauh lebih besar di balik goresan cat para peserta. Seni digunakan sebagai stimulus psikologis agar masyarakat tak lagi enggan mendekati tempat sampah.
“Kami ingin mendobrak stigma bahwa tong sampah itu selamanya kotor. Jika medianya elok dan estetis, masyarakat terutama anak-anak akan lebih bersemangat untuk membuang sampah pada tempatnya. Ada nilai edukasi sekaligus seni yang berjalan beriringan,” jelas Endang.
Kegiatan ini pun kebanjiran peminat. Meski dengan persiapan yang sempat terkendala kuota, antusiasme peserta tetap meluap :
* 88 Siswa TK Berkreasi dalam lomba mewarnai.
* 40 Siswa SD Berkompetisi dalam lomba melukis.
* 50 Siswa SMP/SMA Menantang kreativitas melukis di media tong sampah.
“Banyak yang ingin daftar di lokasi secara mendadak, namun karena keterbatasan media tong sampah, terpaksa kami batasi. Ini bukti minat generasi muda terhadap seni rupa sangat tinggi,” tambahnya.
Hal yang paling mengesankan dari perhelatan ini adalah semangat kemandiriannya. Di tengah kebijakan efisiensi, panitia bersama pemerintah setempat menerapkan prinsip “Zero Budgeting”.
Kepala Seksi Bidang Budaya Disbudparpora Kota Cimahi,Ares Rudhiansyah, mengungkapkan bahwa acara ini adalah buah dari kolaborasi lintas sektor yang apik. Tanpa bergantung pada anggaran negara, mereka berhasil menggandeng berbagai pihak:
Sinergi OPD Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan DPKP mendukung penyediaan media tong sampah, Melibatkan CSR (seperti Propan) untuk bantuan material cat, Fasilitas Pemerintah Disbudparpora menyediakan piala Wali Kota, panggung, hingga sistem suara (sound system).
“Keterbatasan anggaran bukan hambatan untuk berinovasi. Kami mendorong komunitas untuk mandiri. Pemerintah hadir sebagai fasilitator sarana yang sudah ada. Hasilnya nyata: kreativitas tetap berjalan, dan anak-anak mendapatkan apresiasi berupa Piala Wali Kota yang bisa menunjang jalur prestasi sekolah mereka,” ungkap Ares.
Aksi kreatif ini menjadi bagian penting dari peta jalan “100 Event Cimahi” yang dicanangkan pemerintah setempat. Selain edukasi lingkungan, Kota Cimahi kini tengah konsisten menghidupkan ruang-ruang publik melalui berbagai panggung komunitas, seperti Sarmuchi (Selasar Musik Cimahi) Wadah musisi lokal di Selasar Gedung B Pemkot,
Cimahi Street Music Menghidupkan pedestrian Alun-alun setiap malam Minggu, Pasar Awi Campernik Sentra kreativitas di kawasan ekowisata setiap hari Minggu.
Melalui kolaborasi antara PORKIS dan Pemkot Cimahi, masyarakat diingatkan bahwa kepedulian lingkungan tidak harus selalu kaku.
“Lewat warna dan kreativitas, menjaga kebersihan bisa menjadi aktivitas yang membanggakan sekaligus menyenangkan bagi generasi masa depan”. Pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)





