Serikat Pekerja Apresiasi Langkah Tegas Wali Kota untuk Selamatkan Bandung Zoo

Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Serikat Pekerja Mandiri Derenten (SPMD), wadah karyawan Bandung Zoo, menyampaikan apresiasi atas skema penyelesaian yang ditawarkan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.

Skema tersebut dinilai menjadi titik terang di tengah ketidakpastian nasib kebun binatang yang telah lama menjadi ikon Kota Bandung itu.

Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, mengungkapkan bahwa pertemuan antara perwakilan karyawan dan tim utusan wali kota telah membuka ruang dialog yang lebih jelas dan terarah.

“Kami sudah bertemu dengan utusan wali kota untuk mengambil solusi setelah Bandung Zoo ditutup. Dari pertemuan itu mulai terlihat arah penyelesaian yang konkret,” ujarnya, Senin, (02/03/2026).

Menurut Sulhan, langkah yang ditawarkan Wali Kota Farhan merupakan strategi taktis dan progresif untuk mengakhiri konflik yang berlarut. Selama ini, persoalan Bandung Zoo dinilai tak kunjung tuntas akibat adanya manuver sejumlah pihak yang justru memperkeruh suasana. Kondisi tersebut berdampak pada terhambatnya komunikasi dan memperpanjang ketidakpastian bagi pekerja maupun pengelolaan satwa.

Sebelumnya, Wali Kota Farhan mengajukan empat skema penyelesaian, yakni menjamin keberlangsungan pekerja, penyelamatan sumber air dan kawasan lindung, pengamanan aset lahan, serta pelestarian nilai sejarah dan warisan budaya. Bagi para pekerja, empat poin tersebut telah mencakup aspirasi utama yang selama ini diperjuangkan.

“Keberlangsungan bekerja di tempat yang sama adalah hak yang layak kami pertahankan. Selain itu, komitmen menjaga tradisi dan nilai sejarah Bandung Zoo sebagai ikon kota juga menjadi hal penting,” tegas Sulhan.

SPMD juga menyoroti hambatan komunikasi yang selama ini terjadi. Mereka menilai ada pihak-pihak tertentu yang tidak sepenuhnya menyampaikan pesan dan komitmen wali kota secara utuh, sehingga memunculkan kesalahpahaman dan ketidaknyamanan dalam proses dialog. Para pekerja pun meminta agar penyelesaian dilakukan melalui satu pintu koordinasi untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.

“Banyak hal yang tidak tersampaikan dengan jelas. Itu yang membuat pekerja merasa tidak nyaman. Karena itu kami meminta satu pintu penyelesaian agar tidak ada lagi informasi yang terdistorsi,” tambahnya.

Sulhan menegaskan, persoalan Bandung Zoo bukan sekadar isu pengelolaan lembaga konservasi, melainkan menyangkut aspek politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Oleh sebab itu, penyelesaian harus dilakukan secara komprehensif agar tidak menyisakan persoalan baru di kemudian hari.

Saat ini, Bandung Zoo tercatat memiliki 711 satwa yang harus tetap dirawat dan dilindungi. Sebanyak 123 pekerja masih menjalankan tugasnya secara penuh untuk memastikan kesejahteraan satwa tetap terjaga.

Bagi para pekerja, satwa bukan sekadar koleksi konservasi, melainkan bagian dari kehidupan yang telah mereka rawat selama puluhan tahun.

Komitmen menjaga keselamatan dan kesejahteraan satwa menjadi bukti bahwa di tengah polemik yang terjadi, tanggung jawab kemanusiaan dan konservasi tetap menjadi prioritas utama. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *