TEROPONG INDONESIA, Cimahi – Di tengah kemajuan teknologi dan peradaban modern yang terus berkembang, keberadaan aksara Sunda yang kaya akan nilai budaya tetap menjadi salah satu identitas penting bagi masyarakat Sunda.
Aksara Sunda yang dahulu digunakan oleh leluhur masyarakat Sunda, kini mulai mendapatkan perhatian lebih untuk dilestarikan dan dipelajari.
Sang Maestro Aksara, Yudhistira Purana Sakhyakirti menilai, dengan berbagi wawasan mendalam tentang pentingnya mempelajari dan melestarikan aksara Sunda sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
Ahli aksara asal Cimahi ini menjelaskan, aksara Sunda tidak sekadar sebagai alat komunikasi tulisan, namun juga merupakan cerminan dari kebudayaan dan jati diri masyarakat Sunda yang berakar kuat pada ajaran-ajaran leluhur.
“Aksara Sunda adalah bagian dari budaya yang menyimpan banyak pengetahuan dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Yudhistira saat ditemui, Jumat 30 Agustus 2025.
Dikatakan Yudhistira, aksara Sunda memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak abad-abad awal masehi. Berbagai prasasti kuno yang ditemukan di daerah Jawa Barat menjadi saksi bisu dari penggunaan aksara ini.
“Salah satunya adalah Prasasti Pasir Koleangkak yang menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Sansekerta yang berasal dari masa pemerintahan Raja Purnawarman (395–434 M),” katanya.
Selain itu, sebut Yudhistira, ada juga prasasti dengan aksara Jawa Kuno yang menggunakan bahasa Sunda Kuno, seperti Prasasti Batu Tulis yang ditemukan di Bogor dan ditulis pada tahun 1455 Saka atau sekitar tahun 1533 Masehi.
“Jadi aksara Sunda yang digunakan dalam berbagai naskah kuno sangat penting, seperti Kakawin Arjunawiwaha yang ditulis pada abad ke-14 dengan aksara Buda dan bahasa Sunda Kuno,” sebutnya.
Yudhistira menilai, naskah-naskah tersebut menyimpan berbagai cerita dan filosofi hidup yang sangat berharga yang dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai cara hidup masyarakat Sunda pada masa lalu.
“Aksara Sunda bukan hanya sekadar tulisan, tetapi merupakan simbol jati diri bangsa Sunda yang sangat kental dengan tradisi dan nilai budaya,” ujarnya.
Yudhistira menyebut bahwa kehilangan aksara berarti kehilangan sebagian besar dari identitas budaya kita. “Bangsa yang kehilangan aksaranya, akan kehilangan bagian dari jati dirinya,” tandasnya. *** (Gani Abdul Rahman)





