TEROPONG INDONESIA – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan arus globalisasi, salah satu warisan budaya bangsa yang kian tergerus adalah aksara daerah.
Padahal, menurut sang Maestro Aksara Sunda, Yudhistira Purana Sakyakirti yang juga pimpinan Yayasan Gentra Pamitran Kota Cimahi menyebut aksara daerah bukan sekadar simbol komunikasi, namun juga identitas, jati diri, dan kebanggaan suatu bangsa.
“Aksara daerah atau aksara tradisi adalah ciri, jatidiri dan kebanggaan bangsa atau suku bangsa,” ungkap Mang Ujang saat ditemui di sekretariatnya di Jl. Kol Masturi Sukaresmi RT 01 RW 02 kelurahan Citeureup Kecamatan Cimahi Utara, Jumat (11/7/2025).
Pria yang akrab disapa Mang Ujang Laip ini menekankan bahwa tidak semua bangsa di dunia memiliki sistem aksara sendiri, sehingga keberadaan aksara tradisional seperti Aksara Sunda, Jawa, dan Bali merupakan bukti nyata kemajuan budaya dan kekayaan sejarah.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa aksara daerah semakin jauh dari kehidupan masyarakat, bahkan dari pemilik budayanya sendiri.
“Di Cimahi misalnya, keberadaan aksara Sunda nyaris tak terlihat dalam ruang publik atau sistem pendidikan formal,” ujarnya.
Mang Ujang mengidentifikasi sejumlah faktor yang menjadi tantangan terbesar dalam pelestarian aksara daerah. Menurut dia, rendahnya minat masyarakat dan generasi muda terhadap aksara daerah menjadi faktor utama.
“Mereka menganggap aksara daerah tidak punya nilai ekonomis. Dominasi aksara modern, kemandekan bahasa daerah, serta kurangnya lembaga yang fokus pada literasi budaya turut memperburuk keadaan,” jelasnya.
Melihat kenyataan tersebut, komunitas Gentra Pamitran Cimahi mencoba mengambil peran. Lewat pembentukan Komunitas Pegiat Aksara Daerah Masyarakat (PADMA) yang aktif menyosialisasikan dan mengajarkan kembali aksara daerah, tidak hanya di Cimahi, tapi juga merambah ke wilayah Bandung dan sekitarnya.
Langkah ini dilakukan dengan berbagai metode dari pelatihan, penerbitan buku beraksara daerah, hingga membangun komunitas belajar.
“Kami ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya aksara daerah, juga menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Sunda,” ujarnya.
Namun, Ujang tak memungkiri upaya itu belum cukup tanpa dukungan struktural yang kuat. Bahkan, secara tegas dirinya menyatakan setuju jika aksara daerah dijadikan muatan wajib dalam kurikulum sekolah.
“Aksara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tidak akan musnah. Ia adalah alat pengabad sejarah. Kita tidak mungkin mengenal sejarah bangsa jika tidak mengenal warisan leluhurnya,” tegasnya.
Dalam pandangannya, agar aksara daerah tetap relevan di era digital, perlu langkah strategis. Integrasi aksara ke dalam platform digital, pelatihan daring, digitalisasi naskah kuno, serta pengembangan perpustakaan digital menjadi solusi jangka panjang dan penerapan aksara pada nama-nama jalan juga gedung-gedung pemerintah.
“Akses ke manuskrip digital bisa memudahkan pembelajaran tanpa mengurangi keaslian data,” tambahnya.
Ke depan, Mang Ujang berharap hadirnya wadah resmi dari pemerintah yang memfasilitasi pembelajaran aksara daerah secara berkelanjutan.
“Dari situ, kita bisa membantu mencerdaskan bangsa dalam hal budaya, bahasa, sastra dan aksara daerah. Kita tidak bisa membiarkan warisan budaya ini punah terlindas arus zaman,” imbuhnya.
Mang Ujang menilai, isu pelestarian aksara daerah bukanlah soal seremoni atau nostalgia semata, tapi tentang menjaga eksistensi budaya bangsa.
“Jika generasi muda tidak disiapkan untuk mengenal dan mencintainya, maka bukan tak mungkin, aksara daerah hanya akan menjadi jejak sunyi dalam prasasti yang tak lagi bisa dibaca,” pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)





