Religi  

Mengubah Orientasi Hidup

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Banyak orang berlomba-lomba memberi makna bagi hidupnya. Ada yang mempertaruhkan hidup untuk mengumpulkan uang dan harta sebanyak mungkin, ada yang berjuang mati-matian meningkatkan kehormatan dan status sosial, ada pula yang berani berbuat apa saja demi meraih jabatan dan kuasa tinggi yang diinginkan.

Pertanyaan reflektif: apakah ketiga hal ini merupakan hal yang paling berharga untuk menyulap hidup menjadi bermakna? Sebagai orang beriman hal berharga dan bermakna biasanya dikaitkan dengan hidup abadi. Apakah uang/harta, status/kehormatan, dan jabatan/kuasa dapat memberikan jaminan kepastian hidup abadi? Melalui injil hari ini, pertanyaan ini dengan tepat dijawab Yesus.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Melalui Penginjil Matius, hari ini Yesus kembali memberikan perumpamaan mengenai Kerajaan Allah (Matius 13:44-52). Bahwa Kerajaan Allah ibarat harta terpendam di ladang yang ditemukan orang dan mutiara yang dicari lalu ditemukan seorang pedagang. Karena begitu berharga mereka rela menjual apapun yang dimiliki demi memperoleh harta dan mutiara tersebut. Artinya, kerajaan Allah, suasana Allah yang meraja, hidup di mana Allah hadir adalah hal yang paling penting dari apapun. Untuk memperolehnya orang harus berkorban “menjual seluruh miliknya”. Dengan kata lain, demi Kerajaan Allah orang seharusnya meninggalkan aneka kelekatan manusiawi yang menjauhkan dirinya dari situasi di mana Allah yang meraja.

Bagaimana dengan kita? Apakah Kerajaan Allah juga merupakan hal yang berarti bagi hidup kita? Apakah kita lebih memprioritaskan hidup untuk mengumpulkan harta, meningkatkan status, dan mencari jabatan tanpa peduli caranya? Mengumpulkan uang, harta kekayaan, meningkatkan prestise/status, dan menduduki jabatan, memiliki kekuasaan, baik untuk membangun hidup sejauh diupayakan dengan cara-cara yang berkenan di hati Allah.

Baca Juga :  Bersikap Kritis dan Berfikir Visioner

Namun menjadi tidak bermakna, demi uang kita menghalalkan segala cara, demi status kita membangun pencitraan rendahan, demi jabatan kita menyingkirkan banyak orang yang juga pantas untuk jabatan tersebut. Injil hari ini Yesus mengajak kita untuk mulai mengubah orientasi hidup.

Caranya bagaimana? “Juallah” kecenderungan mengutamakan hal-hal duniawi dan utamakan hal-hal yang surgawi; “juallah” kecenderungan mengutamakan cinta diri dan utamakan mencintai sesama; “juallah” aneka keterikatan yang menghalangi dan utamakanlah pola hidup yang memancarkan wajah dan menghadirkan Allah. Tinggalkan upaya mengumpulkan uang/harta, meningkatkan kehormatan/status sosial, dan meraih jabatan/kuasa dengan menghalalkan cara. Selanjutnya, memanfaatkan semua yang dimiliki: kekayaan, kemampuan, kecerdasan, dan jabatan, serta aneka kehebatan untuk memuliakan Allah dan menyelamatkan sesama.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Orientasi hidup yang ditawarkan Yesus hari ini sangat tidak mudah, sangat radikal, dan sangat banyak pengorbanan yang harus dibayar. Namun menghidupi nilai-nilai kerajaan Allah itu jauh lebih berharga. Jaminannya tidak hanya kebahagiaan di dunia melainkan juga di akhirat. Karena janji Tuhan jelas “….carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Mari bersama Allah sendiri kita berorientasi mencari kerajaan-Nya, mengikuti kehendak-Nya, menghidupi nilai-nilai-Nya, agar hidup kita semakin bermakna, menjadi pujian bagi nama Tuhan dan saluran berkat Allah bagi sesama.

Robertus Billarminus I Made Suryanta (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag Bali/ Kemenag.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *