Ibadah Puasa Proses Penguatan Jiwa Menyempurnakan Imtitsalu Awaamirillah Wajtinabu Nawaahihi

Penulis: Dr.Ny. Umnia Labibah S.Th.i, M.Si (Divisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Banyumas, Pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) Miftahul Huda, Pesawahan, Rawalo, Banyumas)

Puasa di bulan Ramadlan bukan hanya ibadah yang bersifat fisik semata, tetapi memiliki dimensi lain yang meranah sisi esoteris manusia. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah: 183 bahwa tujuan disyariatkan berpuasa adalah untuk mencapai derajat takwa. Derajat yang disebut pula dalam al-Qur’an sebagai sebaik-baik derajat manusia di sisi Tuhannya.

Puasa Ramadlan dan Takwa

Ibadah puasa sejatinya bukan syariat baru, sebagaimana di dalam al-Qur’an di sebutkan bahwa ibadah puasa telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad saw. Secara spesifik al-Qur’an surah al-Baqarah: 185 menyebutkan tujuan puasa adalah untuk mencapai ketakwaan. Takwa jamak didefinisikan sebagai imtitsalu awaamirillah wajtinabu nawaahihi, yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dalam kitab Kifayatul Atqiya karya Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathi taqwa didefinisikan sebagai sikap nderek dawuh (mengikuti perintah) Allah dan menjauhi laranganya baik secara lahir maupun secara batin yang didasari rasa mengagungkan Allah, tunduk dan takut kepada Allah. Hal ini sebagai bentuk manifestasi an-yataqiyal ‘abdu maa siwahu ta’ala, takutnya hamba pada sesuatu yang selain Allah.

Sebagaimana perintah puasa perintah bertaqwa adalah salah satu perintah yang telah Allah perintahkan kepada umat terdahulu dan hingga ummat pada zaman akhir, sebagaimana terdapat dalam Q.S.an-Nisa: 131.

Selain itu Allah memberikan tingkatan taqwa kepada kaibaikan yang agung dengan fadah yang sangat banyak diantaranya, Orang yang bertakwa bisa memperoleh ilmu laduni (Q.S.al-baqarah 194), dibebaskan dari api neraka (Q.S.Maryam: 71), Dikeluarkan dari kesulitan (Q.S.ath-Thalaq:2), Mendapat rizki min haisu la yahtasib (Q.S.ath Thalaq 4), diampuni kesalahannya (Q.S. ath-Thalak: 5), mendapat sorga (Q.S.al-Hijr: 45) dan dimuliakan Allah Swt (al-Hujurat: 13).

Baca Juga :  Soal Diduga adanya Pemalsuan Data PPDB, Disdik Jabar Tetap Kedepankan Prinsip Perlindungan terhadap Siswa

Dimensi Tasawuf Dalam Puasa

Jika melihat keluasan dan kedalaman definisi takwa dan capaian dari perintah takwa, maka jelas sekali terdapat garis merah dalam perintah puasa Ramadlan sebagai jalan terbaik para salik menuju Tuhannya.

Jalan salik menuju Tuhannya ini biasa disebut sebagai jalan sufi, atau tasawuf. Puasa menjadi perangkat bagi para salik untuk membakar nafsu keduniawiannya sehingga bisa jernih menerima cahaya Allah. Disebutkan bahwa Taqwa al ilahi madaru kulli saadatin tiba’u ahwa ra’su syarrin habaila, Takwa kepada Allah adalah pusat segala kebahagiaan dan mengikuti hawa nafsu pangkal keburukan.

Melihat definisi Sayyid bakari, takwa memiliki dimensi yang sangat luar biasa, bukan hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan tetapi memiliki dimensi mental hingga batin manusia. Manifestasi orang yang menjaga ketakwaannya bisa terlihat diantaranya dimana ia meninggalkan seluruh dosa, hingga melupakan dunia. Ketakwaan memiliki pondasi yang mendasar bahwa akhirat adalah yang terbaik bagi orang yang bertakwa, wal akhirotu khairul lilladzina yattauun. Sejalan dengan itu, Abu abdillah mengatakan bahwa taqwa adalah menjauhkan diri dari perkara yang bisa menjauhkan manusia dengan Tuhannya.

Kesimpulannya bahwa kebaikan dunia dan akhirat tidak dapat diraih kecuali dengan taqwa, dan keburukan dunia dan akhirat tidak bisa ditolak kecuali dengan takwa. Sangat definitif bahwa puasa memiliki dimensi tasawuf yang kuat, dimana puasa adalah upaya mencapai kesabaran, menahan diri dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Dan takwa menuntut seseorang untuk menjauhi hawa nafsu yang kerap dipenuhi oleh tipu daya setan. Sehingga puasa bukan berhenti pada ibadah fisik semata tetapi memberi dampak pada penguatan jiwa, sehingga dipenuhi oleh sifat-sifat kebaikan yang menjadi modal menjalani kehidupan.

Baca Juga :  Wujudkan Profil Pelajar Pancasila, Guru SDN Pandansari Latih Muridnya Berkebun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *