TEROPONG INDONESIA – Kondisi ekologis Waduk Saguling yang semakin memburuk akibat meluasnya eceng gondok mendorong Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memperkuat kerja sama strategis dengan Kementerian Lingkungan Hidup.
Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail memaparkan kondisi mendesak ini dalam pertemuan dengan Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat di Kota Bandung, sekaligus meminta dukungan penuh pusat agar penanganan tidak hanya bersifat sesaat, melainkan menyentuh akar masalah.
Pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali kini menyumbat aliran air, menghambat aktivitas perikanan dan transportasi warga, serta menjadi sarang nyamuk yang berisiko menimbulkan wabah penyakit.
Meskipun pemkab bersama BBWS, Indonesia Power, Program Citarum Harum, komunitas PAGER SAGULING, dan masyarakat terus melakukan pembersihan secara bergotong royong, upaya tersebut belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan tanaman air itu sendiri.
“Kekuatan daerah saja tidak cukup. Kami butuh dukungan kebijakan, teknologi, dan pendanaan dari pusat agar penanganan terpadu bisa berjalan efektif dan berkelanjutan,” kata Asep.
“Selain masalah waduk, pemkab juga menyampaikan tumpukan persoalan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan berat di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Merespons hal itu, Menteri Muhammad Jumhur Hidayat menyatakan kesiapan kementerian untuk memfasilitasi program, pendampingan teknis, hingga akses pembiayaan yang dibutuhkan.
Ia juga memperkenalkan Gerakan Tobat Ekologi, sebuah langkah perubahan perilaku berbasis nilai spiritual dan moral untuk mengajak seluruh elemen kembali sadar bahwa merawat alam adalah amanah dan tanggung jawab bersama.
“Gerakan ini akan digalakkan secara serentak bertepatan dengan peringatan Hari Danau,” kata Jumhur.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat Ibrahim Aji menegaskan akan segera memobilisasi seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatan Pentahelix. pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media agar setiap pihak berkontribusi sesuai kapasitasnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PAGER SAGULING Haris Bunyamin menyatakan ratusan pondok pesantren di Bandung Barat siap menjadi garda terdepan mengampanyekan gerakan ini lewat pendekatan ekoteologi dan fikih lingkungan.
“Merawat alam adalah ibadah. Kami mewujudkannya dalam konsep Saguling Biosfer yang menyatukan pemulihan ekosistem, pendidikan lingkungan, ekonomi hijau, dan kesejahteraan warga,” ujar Haris.
“Sinergi ini diharapkan tidak hanya membersihkan waduk, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat agar pelestarian alam tumbuh dari kesadaran hati,” ucapnya.
Waduk Saguling tersumbat eceng gondok! Pemkab Bandung Barat dan KLHK luncurkan Gerakan Tobat Ekologi, pesantren siap garda terdepan wujudkan Saguling Biosfer.
Luncurkan Gerakan Tobat Ekologi, Pemkab Bandung Barat dan KLH Bakal Bersihkan Ekosistem Waduk Saguling
VIBESINDONESIA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat memperkuat kerja sama strategis dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam upaya menyelamatkan ekosistem Waduk Saguling yang semakin terancam, sekaligus memperbaiki tata kelola persampahan di wilayah.
Komitmen ini ditegaskan Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail saat bertemu Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat di Kota Bandung, Sabtu (11/7/2026).
Pertemuan ini juga melahirkan gagasan Gerakan Tobat Ekologi, sebuah gerakan perubahan perilaku berbasis nilai spiritual untuk mengembalikan keseimbangan alam.
Asep Ismail melaporkan bahwa pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali kini telah menyumbat perairan, mengganggu aktivitas warga, serta memicu risiko kesehatan akibat populasi nyamuk yang meningkat pesat.
Menurutnya, meskipun pemkab bersama BBWS, Indonesia Power, Program Citarum Harum, komunitas PAGER SAGULING, dan warga rutin melakukan pembersihan, tantangan yang dihadapi terlalu besar jika hanya mengandalkan kekuatan daerah saja.
“Kami butuh dukungan kebijakan dan pendanaan pusat agar penanganan bisa terintegrasi, menyeluruh, dan lestari,” kata Asep Ismail.
“Selain masalah Waduk Saguling, pemkab juga menyampaikan kendala pengelolaan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah utama,” sambungnya.
Merespons hal itu, Menteri Muhammad Jumhur Hidayat menegaskan kementerian siap membantu memfasilitasi program, pendampingan teknis, hingga akses pembiayaan yang dibutuhkan daerah.
Dalam kesempatan itu, ia juga memperkenalkan Gerakan Tobat Ekologi sebagai gerakan moral, sosial, dan spiritual untuk membangun kesadaran bahwa merawat alam adalah tanggung jawab bersama.
“Gagasan ini akan diperkuat lewat peringatan Hari Danau sebagai momentum aksi kolektif,” kata Jumhur.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat Ibrahim Aji menyambut baik arahan tersebut dan akan menggerakkan seluruh pemangku kepentingan lewat pendekatan Pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
“Itu kami lakukan agar semua berkontribusi sesuai perannya,” kata Ibrahim.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PAGER SAGULING Haris Bunyamin menegaskan ratusan pondok pesantren di Bandung Barat siap menjadi garda terdepan mengampanyekan gerakan ini lewat pendekatan ekoteologi dan fikih lingkungan.
“Merawat alam adalah bagian dari ibadah dan amanah Tuhan. Kami akan wujudkan konsep Saguling Biosfer yang menggabungkan pemulihan ekosistem, pendidikan lingkungan, ekonomi hijau, dan kesejahteraan warga,” tegas Haris.
“Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mengatasi eceng gondok dan sampah, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat agar menjaga alam menjadi kebiasaan yang berkelanjutan,” tandasnya.
Gerakan Tobat Ekologi hadir selamatkan Danau Saguling! Pemkab Bandung Barat bersama KLHK dan pesantren bergerak pulihkan ekosistem lewat aksi nyata dan kesadaran spiritual.





