Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Suara bising kendaraan dan derap langkah perkotaan seolah tak pernah berhenti mengikis wajah Bandung. Kota yang dahulu dikenal anggun dengan julukan Kota Kembang dan paras budayanya yang asri, kini kian terdesak oleh persoalan perkotaan yang fatalogis, kemacetan parah, banjir saban hujan mengguyur, menumpuknya sampah, hingga bayang-bayang aksi geng motor.
Kondisi ini menyisakan keprihatinan mendalam bagi para generasi muda daerah. Di tengah dinamika Kota Bandung, Barisan Sunda Ngora (BSN) yang diwakili oleh Dadang Utun yang sekaligus selaku keturunan langsung dari Eyang Wiranatakusumah II ini, menyuarakan jeritan hati dan permohonan maaf sebuah ritual tradisi yang di berinama Pasaduan atau Sasadu kepada pendiri Kota Bandung, Eyang Wiranatakusumah II.
“Sasadu, minta hampura ka pendiri Kota Bandung. Kami tidak bisa menjaga kota yang diciptakan dan didirikannya,” tutur Dadang Utun penuh penyesalan.
Bagi Dadang dan kawan-kawan di Barisan Sunda Ngora, momentum peringatan hari jadi Kota Bandung bukan sekadar perayaan seremonial belaka. Sasadu adalah ungkapan penyesalan jujur dari para sewe-siwi (anak cucu penjelmaan warga kota) yang merasa belum mampu merawat warisan luhur para pendiri kota di tengah kepungan kemajuan zaman yang kian tak terkendali.
Pusat perhatian perjuangan budaya ini tertuju pada kawasan bersejarah di sekitar Dalem Kaum dan eks Palaguna, tempat berdiri situs langka Sumur Bandung. Kawasan ini dipandang tak hanya penting secara historis, namun juga memegang peran vital secara ekologis dan kebencanaan.
Dadang menyoroti janji pemerintah terkait penetapan Kompleks Makam Wiranatakusumah dan Sumur Bandung eks Palaguna sebagai bagian dari cagar budaya nasional. Langkah ini diharapkan memicu perhatian khusus dari kementerian serta pemerintah daerah.
Selain sebagai cagar budaya, kawasan eks Palaguna didorong kuat agar diubah fungsi Tata Ruangnya (RTRW) menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan ruang publik (public space) berbasis kebudayaan Sunda, alih-alih dijadikan deretan bangunan komersial atau hotel.
“Kota Bandung ini sangat minim ruang terbuka hijau. Kalaupun ada aset, jangan semuanya dibangun jadi hotel. Jadikanlah RTH bernuansa budaya. Jika warga Bandung ingin menikmati malam minggu dengan suasana kebudayaan Sunda yang khas, di mana lagi tempatnya?” tegas Dadang.
Perjuangan menyelamatkan eks Palaguna agar menjadi RTH bukanlah hal baru bagi Dadang. Pergerakan ini telah ia rintis sejak tahun 2008 silam bersama para aktivis dan elemen masyarakat lainnya.
Bukan hanya masalah budaya dan estetika kota, dorongan menjadikan area Dalem Kaum dan eks Palaguna sebagai kawasan terbuka juga dilandasi kalkulasi keselamatan bencana.
BPBD telah menetapkan area Alun-Alun, Masjid Agung, dan eks Palaguna sebagai salah satu titik kumpul evakuasi (evacuation shelter) utama jika terjadi bencana alam.
Dadang mengingatkan warga Kota Bandung agar tidak terjebak dalam rasa aman yang semu (tong jongjon teuing). Potensi bencana geologi nyata mengintai Bandung, terutama dengan keberadaan Sesar Lembang.
“Siklus periodik Sesar Lembang secara geologis sudah lewat, artinya kita tidak pernah tahu kapan bencana bisa terjadi. Jangan terlalu santai. Kawasan ini harus disiapkan sebagai zona aman dan titik kumpul warga,” jelasnya.
Melalui gerakan advokasi lingkungan berbalut budaya ini, anak-anak muda Sunda berharap Pemko Bandung dan Pemprov Jawa Barat dapat bersinergi melahirkan kebijakan yang pro-lingkungan dan pro-budaya.
Sebuah pemulihan atas harkat Bandung agar tak lagi terjebak dalam kota yang fatalogis, melainkan kembali menjadi rumah yang nyaman, aman, dan berakar kuat pada adat kebudayaannya. (Gani Abdul Rahman)





