Semua Anak Berhak Belajar Al-Qur’an, H. Acep Hidayat Komarudin Bangun Pesantren Tahfiz Gratis

Pewarta: Steven Gervan

Teropong Indonesia —, Sebuah ikhtiar sederhana dari tanah wakaf kini tumbuh menjadi harapan bagi lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an di Kabupaten Sumedang. Pesantren Al Mustanir Khoirul Huda, yang berada di Dusun Cimuja, Desa Cimuja, Kecamatan Cimalaka, memilih jalur pendidikan yang tidak biasa: membuka pendidikan tahfiz secara gratis bagi para santri.

Tidak hanya pendidikan, kebutuhan makan santri pun ditanggung tanpa pungutan biaya. Konsep tersebut menjadi komitmen yayasan agar anak-anak yang memiliki keinginan kuat menghafal Al-Qur’an tetap memiliki kesempatan belajar meski berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang berbeda-beda.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Mustanir Khoirul Huda, H. Acep Hidayat Komarudin, Amd, mengatakan pesantren tersebut berdiri di atas tanah wakaf atas nama orang tuanya. Ia menyebut konsep gratis yang diterapkan merupakan bagian dari perjuangan untuk membuka akses pendidikan Al-Qur’an seluas-luasnya.

“Pesantren ini dibangun dengan status wakaf atas nama orang tua saya. Kami ingin pesantren ini menjadi tempat bagi anak-anak yang ingin menghafal Al-Qur’an tanpa terbebani biaya. Pendidikan gratis, makan juga gratis,” tutur H. Acep, yang juga Anggota DPRD Kabupaten Sumedang Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Jum’at (21/08).

Keberlangsungan program tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Donatur, sahabat, rekan, hingga dukungan pribadi dari H. Acep menjadi sumber pembiayaan agar aktivitas pendidikan dan kebutuhan para santri dapat terus berjalan.

Bagi H. Acep, pesantren bukan sekadar tempat belajar menghafal ayat demi ayat. Lebih jauh, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang dapat membawa ilmu tersebut ke tengah masyarakat.

Karena itu, target 30 juz menjadi salah satu cita-cita utama yang terus dibangun. Para santri diarahkan untuk memiliki kemampuan menghafal Al-Qur’an secara bertahap hingga menyelesaikan 30 juz.

“Semoga dengan pembiayaan gratis ini semakin banyak anak yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Target kami tentu melahirkan santri dan santriwati yang mampu menghafal sampai 30 juz,” jelasnya.

Hasilnya pun mulai terlihat. Hingga saat ini, sekitar 37 santri telah berhasil menyelesaikan proses pembinaan di pesantren. Sebagian di antaranya bahkan telah melanjutkan pengabdian dengan menyebarkan ilmu yang diperoleh ke pesantren lain.

Untuk bergabung, calon santri tidak dibebani persyaratan yang rumit. Kesiapan fisik, kemauan belajar, dan kesediaan mengikuti aturan pesantren menjadi hal utama yang ditekankan.

Ke depan, yayasan memiliki mimpi yang lebih besar. Selain memperluas lahan, pembangunan akses jalan langsung menuju pesantren juga menjadi salah satu harapan agar mobilitas santri dan masyarakat semakin mudah.

“Mudah-mudahan pesantren ini semakin besar, akses jalannya semakin baik dan bisa langsung dilalui mobil. Kami juga berharap luas tanahnya bisa bertambah. Cita-citanya tentu ingin menjadikan Al Mustanir Khoirul Huda sebagai pesantren yang besar, bahkan menjadi salah satu pesantren terbesar di Sumedang,” ujar H. Acep.

Dari sebuah tanah wakaf, lahirlah sebuah gerakan pendidikan. Dari pendidikan tanpa biaya, tumbuh harapan untuk mencetak generasi Qurani yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu mengamalkan dan menularkan ilmunya kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *