Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi menegaskan komitmennya dalam pemajuan kebudayaan, khususnya pelestarian aksara Sunda.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Cimahi, Raden Lucky Sugih Mauludin, menyampaikan bahwa upaya tersebut kini semakin diperkuat melalui pelatihan, kolaborasi lintas lembaga, dan pemberdayaan komunitas seni lokal.
Menurut Lucky, dukungan terhadap pengembangan aksara Sunda terus meningkat, termasuk melalui pelatihan yang telah digelar sepanjang 2025.
“Untuk aksara Sunda sendiri, kami sangat men-support. Tahun ini sudah dilaksanakan pelatihan oleh DKKC bekerja sama dengan Gentra, para ahli aksara Sunda. Bahkan sudah mulai terdengar penerapannya di beberapa jenjang pendidikan, termasuk SMP,” ujarnya saat ditemui dikantornya, Rabu, 10/12/2025.
Lucky mengatakan, meski terbatas anggaran, Disbudparpora terus mencari formula kolaborasi bersama pihak swasta maupun lembaga lain agar misi pelestarian budaya tetap berjalan.
“Kami sedang mencari kolaborasi dengan pihak swasta atau lembaga lain. Dengan segala keterbatasan anggaran, kami mencoba menyambungkan upaya agar substansi pemajuan kebudayaan, termasuk aksara, tetap berjalan. Tinggal bagaimana kita menyampaikannya kepada pihak yang ingin turut memajukan kebudayaan,” katanya.
Disbudparpora juga mendorong komunitas seni di Cimahi, seperti komunitas pelukis dan Libastra (literatur, bahasa, dan sastra), untuk terlibat dalam kegiatan pelestarian budaya. Lucky menyebut Diskusi intensif dengan DKKC terus berlangsung, terutama menghadapi kondisi anggaran tahun 2026 yang disebutnya “sangat sempit”.
“Tahun 2026 kami dituntut berimprovisasi agar pelestarian kebudayaan tidak terhenti. Ini amanat undang-undang, harus dijaga dan dimajukan. Kami akan mengetuk pihak-pihak yang peduli,” ujarnya.
Salah satu upaya lain adalah menyiapkan ruang publik sebagai tempat tampil seniman dan musisi Cimahi, termasuk Taman Kartini. Meski taman tersebut merupakan aset instansi kemiliteran, komunikasi disebut sudah berjalan.
“Taman Kartini sebetulnya sudah berjalan. Tinggal nanti kita obrolkan penjadwalannya. Kami akan sowan untuk menguatkan kolaborasi agar para seniman dan musisi bisa tampil dan memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat,” jelas Lucky.
Inventarisasi taman-taman lain juga tengah dilakukan untuk memastikan status kepemilikan serta kesediaan masyarakat sekitar jika akan dijadikan lokasi pementasan.
Lucky menegaskan bahwa Disbudparpora telah memberikan keleluasaan kepada DKKC (Dewan Kesenian Kota Cimahi) untuk menjadi mitra dekat para seniman. Namun ia terbuka jika ada kelompok seni yang belum terjangkau.
“Kalau ada yang belum terfasilitasi oleh DKKC atau Disbudparpora, kami akan coba inventarisasi. Tahun 2026 anggaran sangat sempit, tapi karya para seniman dan musisi tetap harus tersalurkan,” tuturnya.
Melalui jaringan kolaborasi, optimalisasi ruang publik, dan penguatan komunitas, Disbudparpora berharap upaya pemajuan kebudayaan di Cimahi termasuk pelestarian aksara Sunda tetap berkembang meski dalam berbagai keterbatasan. (Gani Abdul Rahman)





