TEROPONG INDONESIA, Cimahi — Ribuan pasang mata memadati area pedestrian Alun-Alun Cimahi akhir pekan ini untuk menyaksikan pertunjukan Tari Kolosal Campernik, sebuah karya seni tari yang tidak hanya menampilkan estetika gerak, tapi juga menyuarakan semangat budaya lokal dalam balutan semangat kemerdekaan.
Tari yang digagas oleh Komite Tari Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) ini tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia. Lebih dari itu, menurut Ketua DKKC, Siti Yanti Abintini mengungkapkan, Tari Campernik dirancang sebagai bentuk konkret pengembangan pariwisata berbasis budaya di kota militer ini.
“Campernik bukan hanya tarian, tapi simbol dari kreativitas dan identitas baru Cimahi. Kami ingin agar pertunjukan ini menjadi agenda tahunan yang masuk ke dalam kalender kebudayaan resmi kota,” ujar Yanti saat dihubung media Teropong Indonesia Via WhatsApp, Senin, 25/08/2025.
Yanti menjelaskan, Tari Kolosal Campernik merupakan buah karya para koreografer lokal Cimahi yang telah dikembangkan secara serius sejak beberapa tahun terakhir.
Tujuannya, tidak hanya memfasilitasi kreativitas seniman tari, namun juga membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal.
“Selama ini, kegiatan serupa memang sudah rutin digelar. Namun sebelumnya hanya di tempat-tempat terbatas, seperti di lapangan tembak tahun lalu, sehingga kurang diketahui masyarakat umum. Tahun ini, kami diberikan akses di pedestrian Alun-Alun agar lebih mudah dijangkau dan dilihat publik,” jelasnya.
Tak hanya sebagai hiburan, keberadaan Campernik juga diharapkan bisa menjadi magnet wisata baru bagi Cimahi. DKKC berharap ke depan, dengan dukungan pemerintah kota, Forkopimda, serta seluruh elemen masyarakat, event budaya ini bisa mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Jika ini rutin diselenggarakan dan dipromosikan secara maksimal, bukan tidak mungkin akan memberikan dampak langsung pada ekonomi lokal, khususnya UMKM, serta berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tambah Yanti.
DKKC juga tengah mengupayakan agar Tari Campernik bisa didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai bentuk perlindungan terhadap karya seni lokal. Dalam prosesnya, pihak DKKC terus berkonsultasi dengan para pakar tari dan terus mengevaluasi pelaksanaan kegiatan setiap tahunnya.
Sebagai penutup, Yanti menekankan bahwa Tari Campernik adalah contoh nyata bagaimana budaya bisa menjadi kendaraan untuk pembangunan daerah. Ia berharap komitmen seluruh pihak terhadap kegiatan semacam ini akan semakin kuat di masa depan.
“Kami percaya, ketika budaya diberi ruang, maka masyarakat pun akan tumbuh bersama dengan identitas dan kebanggaannya,” pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)





