Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Jalan Braga berubah menjadi panggung ekspresi seni, budaya, dan intelektualitas generasi muda saat Penerbit Erlangga menutup rangkaian The Voice Fest at Braga dengan festival musik terbuka yang meriah, Minggu (8/2/2026). Ribuan warga memadati kawasan ikonik Kota Bandung itu, menikmati kolaborasi unik antara hiburan publik dan kompetisi akademik.
Digelar selama dua hari, The Voice Fest at Braga menjadi penegasan bahwa Penerbit Erlangga tidak hanya berperan sebagai penerbit buku, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem pendidikan, seni, dan budaya yang hidup di ruang publik. Festival ini memadukan pertunjukan musik, aktivitas komunitas, hingga ajang kompetisi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Puncak acara ditandai dengan pertunjukan musik di dua titik utama kawasan Braga. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari SvBito String Quartet, kelompok musik yang digawangi empat musisi perempuan. Alunan biola dan violin yang mereka suguhkan sukses menghipnotis penonton, menghadirkan nuansa klasik yang dikemas modern dan emosional.
Tak kalah memukau, drummer legendaris Gilang Ramadhan turut meramaikan panggung dengan membawakan lagu-lagu tradisional Nusantara dalam aransemen kontemporer. Penampilan ini menjadi bukti bahwa warisan budaya Indonesia dapat terus hidup dan relevan melalui sentuhan kreatif lintas generasi.
Di hadapan penonton, SvBito juga menyampaikan pesan kepada generasi muda untuk kembali mengenali dan merawat seni budaya Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, sebagai identitas bangsa yang tak tergantikan.
Suasana semakin semarak dengan hadirnya berbagai pertunjukan di sepanjang Jalan Braga. Di sejumlah sudut, komunitas anak muda menampilkan aksi skateboarding, sementara pengunjung lain menikmati unjuk bakat mahasiswa serta deretan booth pameran yang disiapkan panitia. Braga pun menjelma menjadi ruang bersama yang merayakan kreativitas lintas minat dan generasi.
Selain festival musik, The Voice Fest at Braga juga menjadi ajang final tiga kompetisi akademik bergengsi, yakni English Speech Competition, Netherlandse Toespraakwedstrijd (pidato berbahasa Belanda), dan Choir Competition. Kompetisi ini diikuti mahasiswa dari 31 perguruan tinggi se-Pulau Jawa, dan seluruh babak final digelar di Gedung De Majestic dengan atmosfer persaingan yang ketat.
Salah satu juri Netherlandse Toespraakwedstrijd, Dr. Indra Ismail, S.S., M.A., menilai kompetisi tersebut memiliki nilai strategis karena mempertemukan penutur bahasa Belanda dari berbagai kampus di Indonesia.
“Acara ini sangat menarik karena mampu menghimpun penutur bahasa Belanda dari berbagai perguruan tinggi, tidak hanya terpusat di Universitas Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun program studi Bahasa Belanda saat ini baru tersedia di Universitas Indonesia, minat mahasiswa justru menunjukkan tren peningkatan signifikan. “Pada 2025, jumlah pendaftar hampir mencapai 1.000 orang, sementara yang diterima hanya 78 mahasiswa. Ini menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi,” ungkapnya.
Ketegangan mencapai puncak saat pembawa acara mengumumkan para pemenang grand final dari ketiga kompetisi tersebut. Para peserta terbaik dari berbagai kampus berhasil menunjukkan kemampuan intelektual dan artistik mereka di hadapan dewan juri dan penonton.
Dengan berakhirnya The Voice Fest at Braga, Penerbit Erlangga kembali menegaskan komitmennya dalam menjembatani dunia pendidikan dengan ruang kreatif publik. Melalui pendekatan kolaboratif antara kompetisi akademik dan hiburan, Erlangga turut memperkuat literasi budaya serta mendorong lahirnya generasi muda yang berwawasan, kreatif, dan berakar pada identitas bangsa. (Gani Abdul Rahman)





