Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi memastikan pengelolaan sampah pasca perayaan Natal dan Tahun Baru 2026 berjalan aman dan terkendali. Meski masih didominasi sampah kemasan sekali pakai, lonjakan sampah yang lazim terjadi saat pergantian tahun tidak menimbulkan penumpukan signifikan di ruang publik.
Keberhasilan ini tak lepas dari langkah antisipatif DLH yang sejak malam pergantian tahun telah memetakan sejumlah titik rawan penumpukan sampah, terutama di kawasan alun-alun dan lokasi strategis yang menjadi pusat keramaian warga.
Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, mengatakan pihaknya menyiagakan petugas dengan sistem piket di titik-titik tersebut sejak 31 Desember hingga hari pertama tahun baru.
“Kami sudah menginventarisasi titik rawan seperti alun-alun dan lokasi strategis lain yang berpotensi terjadi pengumpulan massa. Di titik-titik itu kami menyiagakan petugas untuk melakukan pembersihan,” ujar Chanifah, Senin (19/01/2026).
DLH menurunkan personel di tiga kawasan strategis, dengan sekitar 10 petugas di setiap titik. Petugas melakukan penyapuan sisa aktivitas masyarakat pada malam tahun baru, serta pemantauan lanjutan keesokan harinya guna memastikan tidak ada sampah yang tertinggal.
Chanifah mengungkapkan, dibandingkan perayaan tahun baru sebelumnya, volume sampah tahun ini justru mengalami penurunan. Hal tersebut dipengaruhi perubahan pola perayaan masyarakat yang kini lebih banyak dilakukan di lingkungan rumah.
“Aktivitas di jalan dan ruang publik relatif lebih landai karena banyak masyarakat merayakan tahun baru di rumah,” katanya.
Meski volume menurun, jenis sampah yang dihasilkan masih didominasi sampah anorganik, terutama kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Kondisi ini, menurut Chanifah, masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti tetap berjalan normal selama libur tahun baru. Pada hari pertama 2026, DLH mencatat sekitar 16 ritase sampah dikirim ke TPA, dengan kapasitas 5–6 ton per ritase, atau total sekitar 140 ton. Jumlah tersebut merupakan gabungan sampah perayaan dan sampah domestik harian.
Selain pengangkutan ke TPA, operasional Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) juga tetap berjalan, termasuk TPS 3R Pasar Atas dan TPS 3R Cibeber. DLH menargetkan pengolahan sekitar 20 ton sampah per hari di empat lokasi TPS 3R yang aktif.
Chanifah mengakui keterbatasan kuota ritase ke TPA Sarimukti masih menjadi tantangan struktural. Namun hingga kini, kebutuhan pengangkutan sampah di Kota Cimahi masih dapat terpenuhi.
“Alhamdulillah semuanya aman dan terkendali. Tidak ada hambatan yang mengganggu pelayanan, meskipun di hari libur,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat sebagai penghasil sampah. Pemilahan sejak dari rumah tangga dinilai menjadi kunci untuk mengurangi beban TPA dan mencegah krisis sampah di masa depan.
“Sampah adalah tanggung jawab dari yang menghasilkan. Kami mengimbau masyarakat untuk memilah sampah, minimal antara organik dan anorganik. Sampah organik seharusnya bisa diselesaikan di tingkat rumah tangga,” kata Chanifah.
DLH Kota Cimahi memastikan pengangkutan sampah, penyapuan jalan di lokasi strategis, serta pengolahan di TPS 3R akan terus berjalan sesuai jadwal sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan kota pasca pergantian tahun.
“Kesadaran memilah sampah dari rumah adalah fondasi utama pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)





