Diharapkan jadi Ikon Budaya, Tari Campernik Hadir Meriahkan Rangkaian HUT ke-80 RI di Kota Cimahi

Sebuah pertunjukan seni yang sarat makna budaya kembali digelar di Kota Cimahi melalui kegiatan Kariaan Tari Campernik, yang menampilkan kekayaan budaya lokal dalam balutan tarian kreasi tradisional. (Foto: Gani Abdul Rahman)

TEROPONG INDONESIA, Cimahi — Sebuah pertunjukan seni yang sarat makna budaya kembali digelar di Kota Cimahi melalui kegiatan Kariaan Tari Campernik, yang menampilkan kekayaan budaya lokal dalam balutan tarian kreasi tradisional.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh para pelatih tari dari berbagai sanggar, dengan dukungan dari Pemerintah Kota Cimahi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Budayawan Jawa Barat, Aditya Alamsyah (Abah Alam), PJ Sekda Kota Cimahi, Kejari Cimahi, Kodim 0609/Cimahi serta Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) dan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) selaku penyelenggara, yang digelar di pelataran alun-alun Cimahi, Minggu (24/8/2025).

Tari Campernik diharapkan bisa menjadi ikon budaya baru Kota Cimahi.

Kepala Disbudparpora Kota Cimahi, Achmad Nuryana mengatakan, Tari Campernik merupakan salah satu bentuk perayaan HUT RI ke-80.

Ia menuturkan, tarian ini adalah hasil kolaborasi dari berbagai sanggar tari yang dibina oleh DKKC.

“Kami berharap tarian ini bisa ditampilkan secara rutin dan menjadi identitas budaya Kota Cimahi,” kata Achmad Nuryana saat ditemui.

Dalam pertunjukan tersebut, sebut Achmad, keterlibatan daerah lain di Jawa Barat menunjukkan bahwa potensi Tari Campernik cukup besar untuk dikembangkan lebih luas.

“Dengan keterlibatan berbagai daerah di Jawa Barat, kami optimis tari ini bisa berkembang ke tingkat nasional, bahkan mendapat hak paten sebagai tarian khas Kota Cimahi,” sebutnya.

Meskipun jumlah pasti peserta belum tercatat, ungkap Achmad, namun hampir seluruh sanggar tari di Kota Cimahi ikut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut.

Seluruh proses kreatif, mulai dari koreografi, musik, lagu, hingga kostum, merupakan hasil karya seniman lokal DKKC.

“Ke depan, tentu tarian ini akan terus disempurnakan, termasuk dalam aspek kekompakan dan kostum, yang juga dikerjakan oleh teman-teman bidang fashion di DKKC,” jelasnya.

Achmad berharap, keberhasilan Tari Campernik dapat menjadi pemicu lahirnya karya-karya seni lain yang lebih fenomenal dari Kota Cimahi,” tandasnya.

Ketua Panitia Kariaan Tari Campernik, Ganda menjelaskan, acara ini diawali dengan tarian pembuka yang bersifat simbolis, sebagai bentuk doa dan permohonan kelancaran kegiatan.

“Tarian pembuka ini bukan bagian dari ritual yang sakral, tapi lebih sebagai bentuk penghormatan dan amitan. Kita cipta lagunya, gerakannya, dan sebelum memulai, tadi saya juga sempat pamit dengan ucapan ‘bismillah’. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” jelas Ganda.

Menurutnya, tarian pembuka tersebut merupakan persembahan dari para pelatih tari, yang bertanggung jawab penuh atas koreografi dan pelatihan kepada anak-anak penari.

“Jadi yang membuat dan melatih ini semua adalah para pelatih. Maka mereka pula yang bertanggung jawab atas keberhasilan penampilan anak-anak. Ini karya mereka yang dipersembahkan dengan sepenuh hati,” tuturnya.

Tari Campernik sendiri menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Menurut Bapak Ganda, tarian ini menggambarkan identitas dan kekayaan Kota Cimahi sebagai kota yang artistik dan berbudaya.

“Campernik itu menggambarkan Cimahi sebagai kota kecil yang indah, kaya akan budaya, industri, pendidikan, bahkan militer,” ucapnya.

“Ada kampung adat Cirendeu, instansi militer, sekolah dari TK sampai perguruan tinggi. Semua itu kami tuangkan dalam tari Campernik,” jelasnya.

Ganda berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan mendapatkan dukungan lebih besar dari pemerintah kota.

Ke depan, sambung dia, pihaknya ingin acara serupa bisa lebih meriah. Pasalnya, pihaknya bakal terus berkarya tanpa meninggalkan tradisi.

“Sampai sekarang ini kami masih mengandalkan anggaran swadaya dari masing-masing sanggar, dan bersyukur disupport juga oleh Disbudparpora dan DKKC. Tapi kami berharap ke depannya ada fasilitasi lebih dari pemerintah kota, terutama dalam hal perizinan dan teknis acara, supaya kita tinggal tampil saja,”pungkasnya.

Acara Kariaan Tari Campernik menjadi bukti nyata bahwa semangat berkesenian di Cimahi masih hidup dan terus tumbuh, mengakar kuat dalam tradisi, namun tetap terbuka pada kreasi. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *