Teropong Indonesia, KOTA SUKABUMI – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Sukabumi menanggapi isu yang berkembang terkait penanaman ikan di kolam retensi jalur lingkar selatan, yang memicu rencana unjuk rasa karena dianggap telah mengalihfungsikan fungsi utama kolam tersebut, Kamis (7/8/2025).
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas PUTR Kota Sukabumi, Sony Hermanto, menyampaikan bahwa pihaknya terbuka terhadap segala bentuk masukan dan kritik dari masyarakat, selama disampaikan secara objektif dan konstruktif.
“Kami menghormati dan menghargai semua aspirasi masyarakat, baik yang mendukung maupun yang tidak. Ini bagian dari proses demokrasi. Siapapun berhak menyampaikan pendapatnya,” ujar Sony.
Sony menegaskan bahwa pihaknya tidak anti terhadap kritik. Justru, ia mendorong adanya dialog terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kami tidak alergi terhadap kritik. Justru kami membuka ruang diskusi agar tidak ada simpang siur informasi yang bisa menimbulkan dampak negatif. Kami ingin semuanya jelas dan transparan,” tambahnya.
Terkait substansi kritik yang diarahkan pada penanaman ikan di kolam retensi, Sony menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berasal dari masyarakat, namun tetap dikaji secara teknis oleh dinas.
“Kapasitas kolam retensi tersebut sekitar 8.000 meter kubik. Sementara volume air yang digunakan untuk penebaran ikan hanya sekitar 34 meter kubik. Jadi secara proporsi sangat kecil dan tidak mempengaruhi fungsi utama kolam,” jelasnya.
Ia mengibaratkan perbandingan tersebut seperti memasukkan satu ekor ikan ke dalam ember besar berisi 24 liter air. Secara teknis, dampaknya terhadap kolam sangat kecil.
Lebih lanjut, Sony menegaskan bahwa fungsi utama kolam retensi adalah sebagai tempat tampungan dan resapan air. Dasar kolam juga dibiarkan berupa tanah agar air dapat meresap secara optimal.
“Saat musim kemarau, air yang menggenang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya ganggang, gulma, dan jentik nyamuk. Dengan adanya ikan, justru membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi potensi penyakit,” terangnya.
Selain itu, keberadaan ikan di kolam juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Kolam menjadi ruang rekreasi alternatif yang murah dan mudah dijangkau warga.
“Banyak warga, termasuk lansia, yang datang ke sana secara sukarela. Ini bisa menjadi destinasi rekreasi murah bagi masyarakat. Justru kami melihatnya sebagai bentuk partisipasi positif warga dalam menjaga lingkungan,” pungkas Sony.
Sebagai bentuk komitmen dalam merespons aspirasi publik, Dinas PUTR juga mengirimkan perwakilan ke kantor sekretariat pihak yang sebelumnya berencana melakukan unjuk rasa, untuk berdialog langsung dan membuka ruang komunikasi yang konstruktif.(rifal)





