SMAN 2 Cimahi Perkuat Sinergi Sekolah dan Aparat untuk Cegah Kenakalan Remaja Lewat MPLS 2025

Teropong Indonesian, KOTA CIMAHI – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2025 di SMAN 2 Cimahi tak sekadar menjadi ajang orientasi bagi siswa baru, tapi juga momentum penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman dan kolaboratif.

Sekolah tersebut menggandeng berbagai pihak, termasuk Kepolisian, TNI, serta orangtua siswa, untuk bersama-sama menanamkan nilai disiplin dan mencegah potensi kenakalan remaja.

Di hari ketiga pelaksanaan MPLS, Rabu (15/7/2025), materi-materi penting seputar hukum, tata tertib sekolah, hingga bahaya geng motor dan bullying diberikan langsung oleh aparat keamanan sebagai bagian dari langkah preventif.

“Kerja sama dengan Polsek dan Babinsa bukan hanya simbolik. Ini adalah bagian dari strategi kami membentuk lingkungan sekolah yang kondusif,” ujar Encep Sutisna, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Cimahi, saat ditemui Teropong Indonesia.

Lebih lanjut, Encep menjelaskan bahwa kegiatan MPLS tahun ini mengintegrasikan pendekatan karakter lewat nilai-nilai lokal Pancawaluya, selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Namun, menurutnya, penanaman nilai ini tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan pengawasan berlapis dan kerja sama yang kuat antara pihak sekolah dan eksternal.

“Anak sekarang tidak bisa hanya diarahkan lewat ceramah. Harus ada pendampingan dari banyak sisi. Makanya kita bentuk tim pembina yang terdiri dari guru, wali kelas, dan guru BK. Tapi tetap, peran orang tua dan lingkungan luar sangat menentukan,” jelasnya.

Dengan jumlah siswa baru mencapai 546 orang yang terbagi dalam 12 kelas, tantangan pembinaan pun makin kompleks. Kelas-kelas kini menampung hingga 50 siswa, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 36 siswa per kelas.

“Kami sadar, dengan jumlah yang lebih banyak, pendekatan harus lebih sistematis. Oleh karena itu, edukasi hukum dan bahaya pergaulan bebas kami masukkan sejak awal MPLS,” katanya.

Dalam rangka mencegah praktik bullying yang kerap menjadi pemicu permasalahan di lingkungan sekolah, pihak sekolah juga memasukkan materi anti-perundungan sejak hari pertama MPLS.

“Ini bukan sekadar formalitas. Kalau ada potensi bullying, kami tangani dengan pendekatan pencegahan dan pembinaan. Tapi kalau tidak bisa dibina, tentu ada tindak lanjut,” tegas Encep.

Langkah SMAN 2 Cimahi menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa tidak bisa berdiri sendiri di bawah tanggung jawab guru semata. Sinergi yang dibangun antara sekolah, aparat, dan masyarakat adalah kunci menciptakan generasi yang tak hanya pintar, tapi juga tangguh secara moral dan sosial. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *