Praktek Pernikahan Banyak Mudaratnya, K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc.,M.A Minta Kebijakan Ditarik di Sekolah

TEROPONG INDONESIA-, Simulasi atau praktek pernikahan di sekolah yang merupakan bagian dari implementasi program kurikulum merdeka. Dinilai lebih banyak mudarat (bahaya/kerusakan) dibandingkan maslahatnya atau mendatangkan manfaat. Sehingga perlu ditarik atau dihapuskan praktek-praktek seperti itu di sekolah.

Ketua Forum Ulama Umat Indonesia K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc.,M.A menyatakan kalau dilihat dari praktek pernikahan yang dijalankan oleh pihak sekolah. “Saya lihat di media massa, itu bisa jadi mengolok-olok hukum Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Misalnya kalau pasangan pengantinnya dari siswa muslim dan Muslimah, mereka praktek nikah dengan adat bali yang dianut agama hindu, itu bisa jadi dikatagorikan orang yang beriman lalu menjadi kafir, karena mengikuti agama lain,” jelasnya saat wawancara khusus bersama wartawan media cetak dan online Koran SINAR PAGI (21/1/2024)

Berdasarkan Surat At-Taubah, ayat 65-66 dijelaskan Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah. ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman.

Ayat itu menegaskan dalam hal agama tidak boleh main-main dan menyerupai kebiasaan agama lain. Pernikahan dan ijab kabul dalam pernikahan merupakan hal yang saklar. Makanya orang yang mengucapkan cerai secara bercanda itu dinilai serius, karena saklarnya dari hubungan berumah tangga atau suami istri.

Selanjutnya ketika pasangan pengantin yang masih sebagai pelajar itu mengucapkan ijab kobul. Lalu bergandengan tangan ditempat khusus pengantin itu pertanda bukan main-main, melainkan serius. Apalagi dalam islam ada larangan mendekati zina, bahwa hukum bersentuhan kulit dengan bukan mahram adalah haram. Itu menjadi hal buruk yang disaksikan oleh siswa lain, namun seolah-olah dibenarkan atau tidak dilarang.

Baca Juga :  Jurnalis Independen Bersatu Programkan "Pelestarian Bahasa Daerah & Penguasaan Bahasa Asing"

Padahal dalam Quran Surat Al-Isra’ ayat 32 umat islam diperintah, “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk”

Seharusnya sekolah itu mendidik bukan menjerumuskan. Ajarkanlah mereka untuk para siswa itu tentang arti pernikahan, rukun nikah, perihal siapa yang halal dan haram dinikahi, hak dan kewajiban suami istri, solusi jika banyak ketidak cocokan setelah menikah, tanpa harus praktek pernikahan seperti itu. Karena jutaan pasangan tanpa praktek-praktek seperti tadi mereka lancar dalam prosesnya.

K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc.,M.A mengingatkan kepada pembuat kebijakan mereka akan menanggung dosa-dosa itu lebih besar dibandingkan mereka yang melaksanakannya. Maka sudah semestinya praktek pernikahan yang seperti itu ditarik dari sekolah-sekolah. Walaupun maksudnya baik, tetapi mungkin tidak memahami agama dengan benar. Sehingga dampaknya lebih banyak mudarat (bahaya/kerusakan) dibandingkan maslahatnya atau mendatangkan manfaatnya.

https://www.youtube.com/watch?v=mOiFGyqruD0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *