Bahtsul Masail Bersama Dr.Ny.Hj. Umnia Labibah S.Th.i, M.Si : “Analisis & Solusi Permasalahan Anak Durhaka”

(Banyumas)-, Sikap dari anak durhaka menjadi masalah keluarga, bahkan cermin yang buruk dan sering muncul di masyarakat. Kebanyakan orang tua masih masih kebingunan atau putus asa ketika menghadapinya. Lalu seperti apa kajian atau solusi dari ajaran islam menghadapi masalah tersebut?…

Setelah aktif sebagai Divisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Banyumas, Dr.Ny. Umnia Labibah S.Th.i, M.Si otomatis menjadi tokoh untuk berkonstultasi perihal masalah anak durhaka. Seperti apa islam menganalis dan memberikan solusi dari sebab tumbuhnya karakter anak durhaka?….

Islam sangat memperhatikan permasalahan anak, dari hak-hak, Pendidikan hingga al-Qur’an memperingatkan orang tua agar jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah.(Q.S.an-Nisa:9), apalagi sampai durhaka kepada orang tua. Karena anak adalah amanat sekaligus generasi penerus sujud orang tua kepada tuhan-Nya. Islam juga sebaliknya memberikan peringatan berkali-kali kepada anak agar berbuat baik pada orang tua, mengingatkan bagaimana kebaikan orang tua, jasa-jasanya pada anak. Bahkan al-Qur’an menyebutkan dalam surah al-ahqaf:15 menyebutkan bagaimana proses manusia di kandungan. Akan tetapi tetap saja ada kondisi di luar kendali orang tua, terkadang anak menjadi durhaka bisa dikarenakan berbagai faktor entah itu pribadi, ekonomi atau lingkungan.

Jika berhadapan dengan realitas tersebut, sebagai orang tua sebaiknya tidak serta merta memusuhi anak. Bisa dilakukan beberapa tahapan, diantaranya menasehati anak, membangun komunikasi yang baik, mencari solusi bersama dan yang utama adalah mendoakan. Doa bisa meluluhkan hati manusia, doa juga bisa menjadi perisai bagi seorang mukmin (ad-du’au silahul mukmin). Saat manusia menjadi keras hatinya atau ditakdirkan buruk, hanya doa lah senjata kita. Karena dalam hadist juga disebutkan, doab isa mengubah takdir (HR Ahmad).

Baca Juga :  Laksanakan Program PGRI Jawa Tengah, Anggota PGRI Somagede Antusias Ikuti Khotmil Qur'an

Kedurhakan anak remaja kepada orang tua berbeda dengan tingkatan kedurhakaan orang dewasa kepada orang tuanya. Mungkin disaat remaja kedurhakaan kepada orang tua cenderung tidak mematuhi aturan atau melawan nasihat dari orang tua untuk kebaikan masa depan anaknya. Sedangkan kedurhakaan orang dewasa kepada orang tua ialah bersikap tidak mau merawat orang tuanya di masa tua. Melihat kedua masalah tersebut, apa tanggapan dan arahannya untuk menumbuhkan kesadaran bagi anak untuk berbakti kepada orang tua?…

Tuntunan islam dalam mendidik anak agar menjadi anak yang sholih yang birrul walidain sangat lengkap. Diantaranya pada surah luqman yang mencontohkan Kisah Luqman dalam al-Qur’an yang menasehati anaknya untuk beriman kepada Allah, berbuat baik kepada orang tua dan perintah bersyukur.

Orang tua dengan demikian berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran anak untuk berbakti kepada kedua orang tua. Hal itu bisa dilakukan dengan membengun keluarga yang Sakinah atau harmonis, memberi tauladan yang baik pada anak, bahkan al-Qur’an mengingatkan agar jangan berkata jelek sebagai bagian dari upaya agar tidak membentuk generasi yang buruk/lemah.

Selain itu, penting untuk membangun komunikasi yang baik, memberikan anak rezeki yang halal serta mendoakan anak agar menjadi anak yang birrul walidain.

Selama menjabat sebagai Divisi Perempuan, Remaja dan Keluarga di Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Pengalaman apa yang menarik dan menjadi inspirasi dalam kehidupan yang dapat diceritakan kepada publik baca media Massa?…

Seringkali permasalahan anak dan orang tua itu ada pada faktor komunikasi. Orang tua merasa sebagai orang tua menuntut dihormati, sementara anak sebagai anak menuntut hak. Beberapa kasus Ketika keduanya sama-sama keras, tidak akan menemukan titik terang. Sebagai contoh terkait pasangan hidup, dan ini banyak kasusnya. Terkadang orang tua dengan pandangannya bersikukuh tidak menerima pilihan anaknya, sementara anak yang sudah merasa kecewa karena pilihanya tidak diterima justru semakin melawan. Disinilah pentingnya saling menurunkan ego. Anak bagaimanapun adalah darah daging kita. Apa salahnya sebagai orang tua mencoba menerima pilihan anak. apalagi jika kemudian berlangsung pernikahan dan dikaruniai cucu.demi kebaikan anak dan cucu, orang tua bisa legowo. Sambal terus berdoa, semoga pilihan anaknya adalah yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *