Camat Cimahi Selatan Tinjau Sekolah Terdampak Banjir, Dorong Solusi Penanganan Berkelanjutan

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Banjir parah yang melanda wilayah Cibodas, RT 01 RW 11, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Minggu (25/1/2026), menyebabkan kerusakan serius pada permukiman warga dan fasilitas umum, termasuk SMK/MTs Mohamad Toha Cimahi.

Sekolah tersebut terendam banjir dan lumpur hingga ketinggian hampir dua meter, memaksa seluruh aktivitas pendidikan lumpuh sementara. Meski demikian, proses pemulihan justru lebih cepat dilakukan oleh pihak sekolah secara mandiri.

Tanpa menunggu bantuan, guru, tenaga usaha, dan siswa bahu-membahu membersihkan lumpur setinggi sekitar 1,5 meter yang menutupi ruang kelas, musala, ruang guru, ruang tata usaha, perpustakaan, hingga halaman sekolah. Bahkan, sejumlah tembok sekolah dilaporkan roboh akibat terjangan air.

Setelah kejadian, Camat Cimahi Selatan Rika Martiana S.STP bersama Lurah Utama Sri Astuti SE.MM turun langsung meninjau kondisi SMK/MTs Mohamad Toha.

Dalam kunjungannya, Camat Rika menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan kehadiran pemerintah wilayah dalam melihat langsung dampak banjir di sekolah tersebut.

“Secara pribadi dan atas nama pemerintah wilayah, saya menyampaikan permohonan maaf karena baru hari ini bisa datang langsung melihat kondisi SMK/MTs Mohamad Toha pascabanjir,” ujar Rika.

Ia menjelaskan, pada hari pertama banjir, Wali Kota Cimahi bersama perangkat daerah dan BPBD telah melakukan peninjauan ke sejumlah titik terdampak. Namun, tidak seluruh lokasi banjir sempat dikunjungi, termasuk SMK/MTs Mohamad Toha yang justru mengalami kerusakan cukup parah.

Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan Utama menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang dinilai sigap dan tangguh dalam menangani dampak banjir, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan hanya dalam waktu tiga hari meski kondisi belum sepenuhnya pulih.

Kepala SMK Mohamad Toha Cimahi, Panji Ahmad Nurani S.E., mengungkapkan bahwa saat banjir terjadi, situasi sekolah sangat mengkhawatirkan karena letak bangunan yang berada di wilayah lebih rendah. Air banjir mencapai hampir dua meter dan merendam seluruh area sekolah, termasuk kantin dan halaman.

“Kami menghadapi lumpur setinggi 1,5 meter yang hampir masuk ke seluruh ruangan. Bahkan ada tembok sekolah yang roboh. Kondisinya benar-benar berat,” kata Panji, saat ditemui Kamis, 29/01/2026.

Ia menambahkan, pada dua hari pertama pascabanjir, kegiatan belajar mengajar terpaksa diliburkan. Seluruh guru, tenaga usaha, dan siswa turun langsung membersihkan lumpur. Pihak sekolah bahkan harus membeli mesin pompa dan peralatan sendiri untuk mempercepat proses pembersihan.

“Dengan gotong royong dan kerja keras, Alhamdulillah pada hari ketiga anak-anak sudah bisa kembali belajar, meskipun belum normal,” ujarnya.

Panji berharap kunjungan Camat dan Lurah tidak berhenti pada peninjauan semata, tetapi diikuti dengan langkah konkret untuk mengevaluasi penyebab banjir dan menghadirkan solusi jangka panjang.

“Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung faktor penyebab banjir di wilayah ini, supaya ke depan ada penanganan yang lebih serius dan sekolah tidak kembali menjadi korban,” pungkasnya. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *