Ragam  

Rumah Wongso Abuchaer di Baros: Jejak Saudagar Sahabat Bung Karno yang Kini Menunggu Perpisahan

Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Sebuah rumah tua berarsitektur neo-klasik Belanda masih berdiri kokoh di Jalan Baros, Kota Cimahi, menyimpan kisah panjang tentang perdagangan, pergerakan nasional, dan persahabatan dengan seorang tokoh yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia.

Rumah itu milik Wongso Abuchaer, saudagar kaya pada masa kolonial sekaligus sahabat Bung Karno. Lebih dari seabad usianya, bangunan bergaya Barat tersebut kini dihuni oleh cucu Mbah Wongso, Dewi Indraprasti (73) bersama suaminya Tiswara (81) dua penjaga terakhir warisan sejarah yang perlahan menua bersama mereka.

Dari halaman depan yang luas, karakter rumah dinas tentara KNIL langsung terasa. Fasade bergaya Eropa berdiri tenang, seolah menantang waktu yang terus bergerak.

Saat melangkah ke dalam, ruang depan menghadirkan beranda dan kamar tidur di sisinya, sementara ruang tengah tempat keluarga berkumpul menyimpan tiga kamar tidur dengan detail arsitektur yang berbeda-beda.

Langit-langit rumah menjadi penanda kelas sosial dan kecermatan konstruksi zamannya. Sebagian ruangan menggunakan pelat eser, seng tebal khas bangunan kolonial, sementara bagian lain mempertahankan papan kayu jati murni yang masih kukuh hingga hari ini.

Di bagian belakang, terdapat kamar pembantu, dapur, serta kamar mandi yang terpisah dari bangunan utama melalui sebuah koridor.

Tata ruang ini menyerupai rumah-rumah dinas tentara di kawasan Garnizun.

Di sisi kanan bangunan utama berdiri sebuah paviliun, sementara lahan di belakang rumah masih menyisakan kebun ruang hijau yang sejak awal memang menjadi bagian dari rancangan hunian ini.

Namun tidak semua jejak masa lalu bertahan. Sebuah pendopo di halaman depan, yang dahulu digunakan untuk pagelaran wayang kulit setiap muludan dan acara penting lainnya, kini telah dirobohkan. Yang tersisa hanyalah ingatan.

Rumah megah itu dibangun sekitar tahun 1918 dan diperkirakan rampung pada 1921, berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2.190 meter persegi.

Saat itu, Baros masih berupa hamparan sawah dan kebun kelapa, jauh dari hiruk-pikuk kota.

“Bangun rumah di sini sekitar tahun 1918 dan selesai itu tahun 1921 pas mertua saya (S Kartono Abuchaer) lahir,” ujar Dewi, Senin (5/1/26).

Wongso Abuchaer, pria asal Yogyakarta, datang ke Cimahi pada akhir 1890-an. Ia memulai hidup sebagai pedagang kecil, menjajakan bakul, sandal kayu Jawa, hingga klompen atau bakiak di Pasar Antri, yang kala itu masih berupa bangunan sederhana. Ia tinggal di Gang Rangsom, Cimahi.

Ketika usaha mulai berkembang, Wongso menambah dagangannya dengan batik dari Yogyakarta. Perlahan, ia menjelma menjadi saudagar sugih. Jejaring usahanya meluas, hingga mampu menyuplai bahan makanan pokok, beras, tepung, gula ke tangsi-tangsi tentara Belanda.

Lahan yang telah dibelinya di seberang rumah di Baros pun ia sulap menjadi pasar, yang hingga kini masih berdiri dan dikenal masyarakat.

“Usahanya maju di sini kemudian keluarga bahkan sodara dibawa ke sini. Beliau termasuk yang mendirikan Pasar Antri,” kata Dewi.

Namun kehidupan Mbah Wongso tidak hanya berkutat pada perdagangan. Ia juga aktif dalam Sarekat Islam, organisasi yang didirikan HOS Tjokroaminoto, yang kerap datang ke Cimahi dan menginap di rumah Mbah Wongso di Jalan Bapa Ampi.

Dari aktivitas pergerakan itulah, Wongso Abuchaer berkenalan dengan Soekarno, jauh sebelum tokoh tersebut dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia. Bahkan, Bung Karno disebut pernah bertandang ke rumah Mbah Wongso di Baros.

Jejak itu kembali ditelusuri puluhan tahun kemudian, saat Rahmawati Soekarnoputri, putri Bung Karno, mendatangi rumah tersebut dalam rangka napak tilas perjuangan sang ayah.

Keluarga Mbah Wongso diajak menyusuri jejak sejarah, termasuk ke Banceuy.

“Bung Karno pernah ke sini, salat di sini, ngobrol biasa. Kapannya saya kurang tau, tapi sebelum jadi presiden. Kemudian Rahmawati ke sini, napak tilas datang ke sini. Kita diajak ke Banceuy,” ucapnya.

Kini, setelah lebih dari 100 tahun berdiri, rumah yang sarat sejarah itu berada di persimpangan nasib. Dewi dan keluarga besar memutuskan untuk menjualnya bukan karena lupa akan nilainya, melainkan karena usia dan keterbatasan tenaga untuk terus merawatnya.

“Berat sebetulnya, tapi ya gimana enggak ada yang mau nerusin ngurus rumah. Saya sama istri kan sudah sepuh. Hasil rembukan keluarga mau dijual,” ujarnya menutup.

Di Jalan Baros, rumah itu masih berdiri. Diam. Menunggu apakah akan tetap menjadi saksi sejarah, atau hanya kenangan yang perlahan menghilang dari ingatan kota. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *