Budaya  

“Menari dengan Pensil, Filosofi Sederhana Kang Yosh dari Patlot Art Cimahi”

Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Di tengah hiruk-pikuk dunia seni rupa yang semakin modern, seorang seniman dari Patlot Art Cimahi, Kang Yosh, memilih untuk tetap setia pada medium yang sederhana: pensil, penghapus, dan kanvas.

Baginya, tiga alat itu sudah cukup untuk menghadirkan keindahan dan karakter kuat dalam setiap goresan karya.

“Karena hanya tiga alat yang diperlukan pensil, penghapus, dan kanvas atau kertas jadi lebih ringan, gampang, dan simpel. Bisa berkarya di mana pun, dalam situasi apa pun,” ujar Kang Yosh saat ditemui diimah seni pada, Kamis, (23/10/2025).

Meski sederhana, menurutnya, pensil justru menyimpan keunikan tersendiri dibandingkan cat. “Kalau cat, kadang warna satu dengan lainnya terasa sama. Tapi dengan pensil, tiap goresan bisa berbeda, punya ciri khas tersendiri lewat gaya arsir yang muncul alami dari tangan,” jelasnya.

Kang Yosh lebih memilih pensil mekanik ketimbang pensil kayu tradisional. Alasannya, sederhana namun penuh makna.

“Saya pakai pensil mekanik karena lebih aman. Nggak perlu diserut dulu, dan setiap goresan bisa lebih konsisten. Lebarnya bisa diatur sesuai kebutuhan, tapi dominan saya pilih mekanik karena praktis dan efisien,” ujarnya.

Namun, dunia pensil tak sesederhana yang dibayangkan. Ada teknik-teknik khusus untuk menonjolkan karakter karya, terutama dalam hal arsiran dan blending.

“Kalau medianya kertas, arsiran bisa dibantu kuas atau kapas untuk membentuk pola awal objek. Tapi kalau di kanvas, kuas itu penting banget. Dengan kuas sintetis yang halus, blending bisa lebih hidup dan karakter lukisan lebih terasa,” tambahnya.

Meski terdengar mudah, melukis di atas kanvas dengan pensil tetap punya tantangan tersendiri. Pensil mekanik, misalnya, sering patah. “Harus tetap fokus pada objek. Goresan itu harus lahir dari kondisi yang tenang,” ucap Kang Yosh.

Menurutnya, pemilihan bahan juga menjadi kunci. “Kertas atau kanvas yang berkualitas baik itu penting. Hasil karya bisa lebih awet, indah, dan makin lama makin terlihat hidup,” katanya.

Untuk menjaga karya tetap awet, Kang Yosh punya trik unik. “Bisa ditutup dengan kaca, atau dilapisi pernis bening. Bahkan putih telur yang disemprotkan juga bisa menjaga dari lembab dan cipratan air. Yang penting, simpan di tempat yang hangat,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagi Kang Yosh, seni bukan sekadar hasil, tapi proses. Ia menekankan pentingnya kesabaran bagi para perupa muda. “Jangan tergesa-gesa. Kadang pemula ingin cepat selesai, sering hapus-hapus, padahal itu justru bisa merusak ritme. Nikmati saja prosesnya,” pesannya.

Di tengah ramainya media sosial yang dipenuhi karya para perupa pensil, Kang Yosh justru menemukan inspirasi dari lingkaran terdekatnya.

“Saya banyak belajar dari teman saya, Kang Pribadi. Gaya beliau itu khas, sederhana tapi penuh karakter. Dari dia saya belajar bagaimana menciptakan karya yang hidup dan punya jiwa,” katanya dengan nada penuh penghargaan.

Bagi Kang Yosh, setiap goresan pensil adalah tarian kecil antara ketenangan, kesabaran, dan ekspresi diri.
“Seni itu bukan soal alat yang mahal, tapi bagaimana kita menghidupkan goresan dengan hati,” tuturnya.

Dari ruang kecil di Cimahi, Kang Yosh terus berkarya membuktikan bahwa kesederhanaan bisa menjadi kekuatan, dan bahwa keindahan sejati sering kali lahir dari hal-hal paling sederhana: pensil, kertas, dan ketulusan. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *