Religi  

Warisan Leluhur Dijamas, Karaton Sumedang Larang Semarakkan Maulid Nabi

Pewarta : Steven

‎TEROPONG INDONESIA- Sumedang-, Suasana khidmat menyelimuti Pelataran Karaton Sumedang Larang (KSL) saat digelar Jamasan Pusaka, Senin (25/08). Prosesi sakral ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Festival Tradisi Karaton Sumedang Larang yang berlangsung sejak 24 Agustus hingga 7 September mendatang.

‎Rangkaian acara dimulai sehari sebelumnya dengan Nyuguh Ageung, sebuah tradisi syukuran besar khas Karaton. Puncaknya pada 25 Agustus, pusaka-pusaka keraton dikirab alit lalu dijamas atau dibersihkan, sebagai wujud penghormatan terhadap peninggalan para leluhur.

‎Dalam prosesi kali ini, sebanyak 27 pusaka dijamas. Tujuh di antaranya merupakan pusaka inti yang memiliki nilai historis tinggi. Di antaranya Pedang Kimastak milik Prabu Tajimalela, Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung, Keris Panunggul Naga milik Prabu Geusan Ulun, dua Keris Nagasastra milik Panembahan Sumedang dan Pangeran Kornel, serta Duhung/Badik Curuk Aul peninggalan Embah Jaya Perkasa. Selain itu, 20 pusaka lainnya juga turut dijamas dengan penuh kehati-hatian.

‎Ketua Panitia Festival Tradisi Karaton Sumedang Larang, Mahapatih KSL, Rd. Lily Djamhur Soemawilaga, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara.

‎“Alhamdulillah, hari ini Jamasan Pusaka dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun,” ujarnya.

‎Mahapatih menambahkan, terselenggaranya acara ini berkat semangat gotong royong para kawargian tanpa dukungan anggaran pemerintah.

‎“Tidak lupa saya atas nama pribadi dan Karaton Sumedang Larang menghaturkan banyak terima kasih kepada seluruh yang terlibat dalam acara ini, sekaligus mohon maaf apabila ada kekurangan dari pihak kami,” katanya.

‎Tradisi jamasan pusaka di Karaton Sumedang Larang bukan sekadar ritual pembersihan benda pusaka. Lebih dari itu, ia menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur, sekaligus pengingat bahwa nilai budaya dan spiritual harus senantiasa dijaga dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *