Pewarta: Steven Gervan
Teropong Indonesia – Bandung Barat-, Upaya menumbuhkan budaya literasi di kalangan pelajar terus menunjukkan perkembangan positif, meski di tengah tantangan perubahan kebiasaan membaca pada era digital.
Hal tersebut disampaikan oleh Deni Nurzaman, S.I.Pust, pustakawan di SMAN 1 Padalarang Bandung Barat yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade di dunia perpustakaan sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Menurut Deni, indikator minat baca siswa tidak hanya bisa dilihat dari angka peminjaman buku di perpustakaan. Saat ini, dari sekitar 1.200 siswa, tercatat sekitar 30 hingga 40 siswa meminjam buku setiap harinya.
“Data peminjaman memang belum tinggi, tetapi itu bukan satu-satunya ukuran minat baca siswa,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (13/04).
Ia menjelaskan, budaya literasi di sekolah justru terus tumbuh melalui berbagai program yang dirancang menarik dan relevan dengan kebiasaan siswa. Salah satunya adalah program rutin SPASI / SMAN 1 Padalarang Berliterasi yang dilaksanakan setiap hari Selasa pagi.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak membaca selama 45 menit sebelum pembelajaran dimulai. Program ini dinilai efektif dalam membangun kebiasaan membaca secara konsisten.
“Melalui kegiatan seperti ini, siswa tetap rutin membaca. Jadi sebenarnya budaya baca itu tumbuh, hanya ruang lingkupnya yang berbeda atau tidak di ruang perspustakan,” jelas Deni.
Selain itu, banyak siswa yang telah memiliki koleksi buku pegangan sendiri, hal itu menjadi indikator minat baca yang tinggi. Bukan hanya di sekolah, tetapi di rumahnya. Sehingga kebutuhan untuk meminjam buku di perpustakaan menjadi lebih fleksibel. Perpustakaan pun berperan sebagai pelengkap sumber bacaan untuk memperkaya wawasan siswa.
Seiring perkembangan teknologi, perpustakaan sekolah juga mulai melakukan inovasi dengan menghadirkan sistem literasi digital. Pemanfaatan barcode yang dapat diakses melalui smartphone menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan layanan perpustakaan dengan generasi digital.
Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan kemudahan akses sekaligus meningkatkan ketertarikan siswa terhadap berbagai bahan bacaan.
Deni menegaskan, penguatan literasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk dalam pengayaan koleksi buku yang sesuai dengan minat siswa agar semakin variatif dan menarik.
“Dengan dukungan yang tepat, perpustakaan bisa menjadi ruang belajar yang hidup, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan siswa saat ini,” tuturnya.
Ke depan, perpustakaan sekolah diharapkan terus bertransformasi menjadi pusat literasi yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.





