Religi  

CERPEN: RINDU YANG TAK PUNYA ALAMAT UNTUK PULANG

Oleh : Idris Apandi

Takbir berkumandang dari masjid kecil di ujung gang. Malam itu, langit seperti ikut bergetar oleh gema Allahu Akbar yang bersahut-sahutan. Aku duduk sendiri di ruang tamu, memandangi pintu rumah yang tertutup rapat. Entah kenapa, setiap kali malam takbiran tiba, pandanganku selalu kembali ke sana. Ke pintu itu.

Dulu, pintu itu adalah awal dari kebahagiaan.

Kini, ia hanya menjadi pengingat bahwa aku tak lagi punya tujuan untuk pulang.

Beberapa tahun lalu, perjalanan mudik selalu menjadi agenda paling penting dalam hidupku. Aku rela menempuh perjalanan lebih dari seratus kilometer dari tempatku mengajar di Cianjur Selatan menuju kampung halaman di Ciamis. Jalanan macet, tubuh lelah, bahkan kadang harus berdesakan. Semua terasa ringan.

“Yang penting bisa ketemu Ibu,” begitu aku selalu berkata pada suamiku.

Aku masih ingat jelas bagaimana Ibu berdiri di depan pintu, menunggu kami datang. Wajahnya sumringah, matanya berbinar. Begitu aku turun dari kendaraan, ia langsung memelukku erat.

“Kamu capek, Nak?” tanyanya lembut.

Aku hanya tersenyum sambil menggeleng. Padahal, rasa lelah itu seketika hilang saat melihatnya.

Ayah sudah lebih dulu pergi, sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, Ibu menjadi satu-satunya alasan kami untuk pulang. Aku, Andi, dan Sandra. Tiga bersaudara yang kini hidup terpencar selalu menjadikan momen lebaran sebagai waktu untuk berkumpul.

Kami jarang bertemu. Andi sibuk bekerja di Bandung, Sandra menetap di Bekasi bersama suaminya yang membuka toko kelontong, dan aku sendiri mengajar di daerah terpencil. Komunikasi kami lebih sering melalui telepon atau pesan singkat.

Namun, saat lebaran tiba, semuanya berubah.

Rumah itu kembali hidup.

Suara tawa memenuhi ruang tamu. Aroma masakan Ibu menyebar dari dapur. Anak-anak kami berlarian di halaman. Kami saling bercerita, bercanda, bahkan terkadang menangis bersama mengenang Ayah.

Dan Ibu… ia selalu menjadi pusat dari semua itu.

Aku menunduk, mengusap air mata yang jatuh tanpa diminta.

Sudah dua tahun.

Dua tahun sejak Ibu pergi.

Sejak itu, tak ada lagi pesan video call yang masuk darinya. Tak ada lagi suara lembut yang memanggil namaku. Tak ada lagi sosok yang berdiri di depan pintu menunggu kepulangan kami.

Aku masih ingat percakapan terakhir kami.

“Kalau Ibu nanti meninggal, Ibu mau dimakamkan di samping Ayah,” katanya suatu sore.

Aku terdiam. “Jangan bicara begitu, Bu.”

“Ibu cuma titip pesan. Supaya nanti Ibu dekat lagi dengan Ayah.”

Aku menggenggam tangannya. Saat itu, aku tak menyangka bahwa percakapan itu akan menjadi salah satu yang terakhir.

Dan benar saja, tahun 2024, Ibu pergi menyusul Ayah.

Kini, keduanya beristirahat berdampingan di makam keluarga.

“Teh, tahun ini mudik nggak?” suara Andi memecah lamunanku melalui sambungan telepon.

Aku menarik napas. “Nggak tahu, Di. Kamu sendiri?”

“Kayaknya cuma ziarah aja. Nggak lama. Paling sehari.”

Aku mengangguk, meski ia tak bisa melihat. “Aku juga begitu.”

Sejenak kami terdiam.

Dulu, kami selalu bersemangat membahas mudik. Menentukan tanggal, merencanakan perjalanan, bahkan berbagi tugas membawa oleh-oleh untuk Ibu.

Sekarang?

Tak ada lagi yang perlu direncanakan.

“Kangen ya, Te…” suara Andi pelan.

Aku menelan ludah. “Iya.”

“Dulu Ibu selalu nanya kita kapan pulang…”

Aku tak sanggup menjawab. Dadaku terasa sesak.

Setelah beberapa saat, Andi kembali bicara, “Yang penting sekarang kita masih punya mertua. Kita jaga mereka, ya.”

“Iya,” jawabku singkat.

Telepon pun terputus.

Lebaran tahun lalu, aku datang ke kampung halaman. Tapi rasanya berbeda.

Rumah itu masih berdiri, tapi tak lagi sama.

Aku membuka pintu perlahan. Tak ada yang menyambut. Tak ada pelukan hangat. Tak ada suara yang memanggil namaku.

Hanya keheningan.

Aku berjalan masuk, menyentuh kursi yang dulu sering diduduki Ibu. Masih sama, tapi terasa asing.

“Teh…” Sandra tiba-tiba memanggil dari belakang.

Aku menoleh. Ia datang bersama suaminya. Kami saling berpelukan.

“Kita ke makam sekarang?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Kami bertiga berdiri di depan pusara Ayah dan Ibu. Tanah merah itu masih terlihat baru. Aku menatap dua nisan yang berdampingan, lalu berbisik dalam hati:

Maaf, Bu… aku sering menunda pulang dulu.

Air mataku jatuh.

Aku menyesal.

Dulu, aku sering berpikir bahwa waktu masih panjang. Bahwa aku bisa pulang kapan saja. Bahwa Ibu akan selalu ada menungguku.

Ternyata, aku salah.

Waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Malam takbiran kembali menggema tahun ini.

Aku masih duduk di tempat yang sama, memandangi pintu yang sama.

Namun, kali ini ada yang berbeda.

Anakku, Rara, datang menghampiri.

“Ibu, kenapa nangis?” tanyanya polos.

Aku tersenyum tipis. “Ibu kangen Nenek.”

“Kenapa kita nggak ke rumah Nenek?”

Pertanyaan itu seperti menusuk hatiku.

“Nenek sudah nggak ada, Nak…”

Rara terdiam sejenak, lalu berkata, “Kalau gitu, kita ke rumah Neneknya Ayah aja, ya? Kasihan, nanti Nenek nungguin.”

Aku tertegun.

Ucapan sederhana itu menyadarkanku.

Aku menatap wajah anakku, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Nak. Kita akan ke sana.”

Keesokan harinya, aku berbicara dengan suamiku.

“Kita mudik ke rumah Ibu kamu, ya,” kataku.

Ia tersenyum. “Aku juga berpikir begitu.”

Perjalanan itu mungkin tidak lagi sama seperti dulu. Tidak ada lagi Ibu yang menungguku di depan pintu. Tidak ada lagi rumah yang benar-benar terasa “pulang”.

Namun, aku sadar satu hal.

Selama masih ada orang tua, siapa pun itu, mereka adalah alasan untuk pulang.

Dan aku tak ingin anakku merasakan penyesalan yang sama seperti yang kurasakan sekarang.

Beberapa hari kemudian, aku mengirim pesan kepada Andi dan Sandra.

“Kita tetap ke makam, ya. Tapi jangan lupa juga pulang ke mertua masing-masing. Selagi mereka masih ada.”

Andi membalas, “Iya, Te. Aku juga kepikiran itu.”

Sandra menambahkan, “Bener. Jangan sampai kita nyesel lagi.”

Aku tersenyum membaca pesan itu.

Takbir kembali berkumandang.

Namun kali ini, aku tidak lagi memandangi pintu dengan kesedihan yang sama.

Aku justru melihatnya sebagai pengingat.

Bahwa dulu, ada seseorang yang selalu menunggu di baliknya.

Dan kini, mungkin ada seseorang di tempat lain yang juga menunggu.

Untuk siapa pun yang masih memiliki orang tua…

Pulanglah.

Jangan tunda.

Jangan tunggu waktu luang.

Jangan tunggu semuanya sempurna.

Karena suatu hari nanti, pintu itu mungkin masih ada.

Tapi tak akan ada lagi yang membukanya untukmu.

Dan saat itu terjadi, penyesalan tak akan pernah cukup untuk mengembalikan waktu.

Mudiklah.

Bukan untuk membawa oleh-oleh.

Bukan untuk sekadar formalitas.

Tapi untuk menghadirkan dirimu.

Karena bagi orang tua, kehadiranmu adalah kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apa pun.

Dan percayalah…

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada rindu yang tak punya alamat untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *