Oleh Idris Apandi, Penulis Buku ”Aku, Ramadan, dan Literasi”
Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya Idulfitri dengan penuh kegembiraan. Jalanan menjadi ramai, rumah-rumah dibersihkan, pusat perbelanjaan dipenuhi orang yang berburu pakaian baru, dan aroma masakan khas lebaran mulai tercium dari dapur-dapur rumah. Ketupat, opor ayam, rendang, serta aneka kue lebaran tersaji di meja. Anak-anak mengenakan baju terbaiknya, orang dewasa saling berkunjung dan bersalaman, meminta maaf serta mempererat silaturahmi.
Suasana ini menciptakan satu kesan yang sama: lebaran adalah hari yang membahagiakan.
Namun jika direnungkan lebih dalam, ada satu pertanyaan yang menarik untuk diajukan: apakah setiap orang yang merayakan lebaran benar-benar merasakan kebahagiaan yang hakiki?
Secara lahiriah, hampir semua muslim bisa merayakan lebaran. Mereka bisa memakai baju baru, menikmati hidangan lezat, dan berkumpul bersama keluarga. Akan tetapi, kebahagiaan yang sesungguhnya tidak hanya lahir dari kemeriahan suasana atau kelengkapan hidangan di meja makan. Kebahagiaan yang hakiki biasanya lahir dari sebuah perjuangan.
Dalam kehidupan, rasa bahagia sering kali muncul setelah seseorang melewati proses yang penuh usaha dan pengorbanan. Ketika seseorang bekerja keras untuk mencapai sesuatu, lalu berhasil meraihnya, maka kebahagiaan yang dirasakan menjadi jauh lebih bermakna.
Untuk memahami hal ini, bayangkan sebuah tim sepak bola yang berhasil menjuarai sebuah turnamen. Dalam pertandingan final, para pemain inti bermain selama 90 menit penuh. Mereka berlari tanpa henti, berkeringat, jatuh bangun di lapangan, bahkan mungkin ada yang mengalami cedera demi mempertahankan kemenangan timnya.
Di sisi lain, ada pula pemain cadangan yang sepanjang pertandingan hanya duduk di bangku cadangan. Mereka tetap bagian dari tim, tetap mengenakan seragam yang sama, dan tetap berhak merayakan kemenangan ketika timnya menjadi juara.
Ketika peluit akhir dibunyikan dan tim tersebut dinyatakan menang, semua pemain bersorak gembira. Mereka mengangkat piala, menerima medali, dan merayakan kemenangan bersama. Namun jika diperhatikan lebih dalam, nilai kebahagiaan yang dirasakan oleh pemain yang benar-benar berjuang di lapangan tentu berbeda dengan pemain yang tidak mendapatkan kesempatan bermain.
Pemain yang ikut bertanding merasakan kepuasan batin karena ia menjadi bagian dari perjuangan tersebut. Ia tahu betul bagaimana kerasnya usaha yang telah dilakukan. Setiap tetes keringat di lapangan menjadi bagian dari cerita kemenangan itu.
Sebaliknya, pemain cadangan mungkin tetap bahagia, tetapi ada rasa yang berbeda. Ia mungkin merasa kurang percaya diri ketika ditanya tentang perannya dalam kemenangan tim. Ia ikut merayakan kemenangan, tetapi tidak sepenuhnya merasakan perjuangan yang melatarbelakanginya.
Perumpamaan ini dapat membantu kita memahami makna lebaran.
Idulfitri sering disebut sebagai hari kemenangan. Kemenangan yang dimaksud bukanlah kemenangan dalam arti duniawi, melainkan kemenangan setelah menjalani perjuangan spiritual selama bulan Ramadan. Selama satu bulan penuh, umat Islam dilatih untuk menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga terbenam matahari. Tubuh terasa lelah, energi berkurang, tetapi hati tetap diajak untuk bersabar.
Tidak hanya menahan makan dan minum, puasa juga melatih seseorang untuk mengendalikan emosi, menjaga ucapan, menahan amarah, serta memperbanyak amal kebaikan. Salat tarawih dilakukan pada malam hari, Al-Qur’an dibaca dan dipahami, sedekah ditingkatkan, dan berbagai ibadah lainnya dilakukan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.
Proses ini bukanlah sesuatu yang ringan. Bagi sebagian orang, menjalani puasa dengan konsisten selama sebulan penuh membutuhkan kesungguhan dan komitmen yang kuat.
Ketika seseorang benar-benar menjalani proses tersebut dengan penuh kesadaran, maka Idulfitri menjadi puncak dari sebuah perjalanan spiritual. Lebaran tidak hanya sekadar hari libur atau momen berkumpul dengan keluarga, tetapi menjadi simbol kemenangan setelah berhasil menundukkan hawa nafsu.
Di sinilah kebahagiaan hakiki itu muncul.
Sebaliknya, ada juga sebagian orang yang menjalani Ramadan dengan setengah hati. Puasa sering bolong tanpa alasan yang jelas. Salat tarawih hanya dilakukan sesekali, bahkan ada yang tidak pernah melaksanakannya. Membaca Al-Qur’an terasa berat, dan berbagai amalan Ramadan tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ketika Idulfitri tiba, mereka tetap merayakannya seperti yang lain. Mereka mengenakan pakaian baru, menikmati hidangan khas lebaran, dan bersilaturahmi dengan keluarga. Dari luar, ekspresi kebahagiaan mereka tampak sama.
Namun sebenarnya, kebahagiaan yang dirasakan belum tentu sama.
Kebahagiaan yang muncul bisa jadi hanya bersifat lahiriah—sebatas kegembiraan karena suasana meriah, makanan enak, dan pakaian baru. Tanpa melalui proses perjuangan selama Ramadan, lebaran mungkin terasa seperti sebuah perayaan biasa, bukan kemenangan yang penuh makna.
Karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memaknai Ramadan sebagai sebuah kesempatan berharga untuk berjuang memperbaiki diri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan untuk menjadi manusia yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.
Menariknya, tantangan terbesar justru sering muncul di akhir Ramadan. Ketika hari-hari terakhir mulai mendekat, perhatian banyak orang mulai bergeser. Pusat perbelanjaan menjadi semakin ramai, orang sibuk membeli pakaian baru, mempersiapkan kue lebaran, merencanakan perjalanan mudik, dan berbagai persiapan lainnya.
Kesibukan tersebut sering kali tanpa disadari membuat semangat ibadah menurun. Padahal, justru di penghujung Ramadan terdapat kesempatan besar untuk meraih pahala yang luar biasa, termasuk malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Karena itu, sisa hari-hari Ramadan seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin. Setiap detik menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta memohon ampunan kepada Allah.
Jika Ramadan benar-benar dijalani dengan penuh kesungguhan, maka ketika takbir Idulfitri berkumandang, hati akan merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa haru, syukur, dan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Itulah kebahagiaan hakiki lebaran.
Lebaran tidak lagi sekadar tentang pakaian baru atau hidangan lezat, tetapi tentang perasaan menang setelah melewati sebuah perjalanan spiritual yang penuh makna.
Pada akhirnya, setiap muslim memang bisa merayakan lebaran. Namun tidak semua orang otomatis merasakan kebahagiaan yang sama. Kebahagiaan sejati hanya akan dirasakan oleh mereka yang benar-benar berjuang selama Ramadan.
Semakin sungguh-sungguh perjuangan itu dilakukan, semakin dalam pula kebahagiaan yang akan dirasakan saat hari kemenangan tiba.





