Dukung Target Zero Waste, Warga Cibabat Cimahi Kembangkan Program Pengelolaan Sampah dan Budidaya Magot

TEROPONG INDONESIA – Upaya pengelolaan sampah di Kota Cimahi terus menunjukkan tren positif. Sejak meraih juara dalam lomba “Gerak Ompimpa” tahun 2023, RW 25 menjadi pionir dalam penerapan teknologi sederhana pengolahan sampah yang berdampak nyata di masyarakat.

Hadiah dari lomba tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan alat-alat pengolahan sampah, membuka peluang bagi warga untuk terlibat lebih aktif dalam pengelolaan lingkungan.

Ketua PKK RW 25, Dewi Trihandayani, pada Sabtu, 28/6/2025 dia Aula Lapang Pingpong RW 25 Kelurahan Cibabat menyampaikan bahwa inisiatif ini tidak hanya terbatas di lingkungan RW 25, tetapi juga melibatkan kelurahan lain yang turut menyumbangkan sampah organik.

Sampah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membudidayakan magot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF), yang dikenal efektif dalam mengurai sampah organik dan bernilai ekonomi tinggi.

Namun, Dewi mengungkapkan bahwa pada tahap awal pelaksanaan, masih banyak sampah yang belum dipilah dengan benar, seperti tercampur plastik dan tisu.

Hal ini menyebabkan kualitas magot menjadi tidak konsisten. Untuk itu, edukasi kepada warga mengenai pemilahan sampah dari rumah tangga dilakukan secara intensif.

“Sekarang sudah banyak rumah tangga yang mulai membudidayakan magot sendiri, lalu hasilnya disetor ke tim PKK untuk dipanen bersama,” jelasnya.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan warga mengenai jenis makanan yang sesuai untuk magot.

Akibatnya, banyak magot yang tumbuh tidak optimal (stunting) dan tidak memenuhi standar pasar. Hal ini menyebabkan beberapa hasil budidaya ditolak oleh pengepul.

Dari sisi pemanfaatan, magot kering saat ini digunakan untuk pakan dalam program budidaya ikan dalam ember (budik damber).

Hasilnya berupa ikan lele, yang kemudian diolah menjadi produk olahan seperti nugget lele dan abon lele untuk mendukung kebutuhan gizi di Posyandu setempat.

Meski nilai ekonominya masih terbatas, inisiatif ini mulai menunjukkan potensi untuk pengembangan lebih lanjut.

“Ke depannya, kalau produksi magot meningkat dan kualitasnya bagus, kami berharap bisa mulai menjualnya untuk menambah penghasilan warga,” tambah Dewi.

Program ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang menuju target zero waste ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dengan pengelolaan sampah dari hulu secara terpadu dan partisipatif, beban pemerintah dalam penanganan sampah diharapkan berkurang, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Dosen Universitas Nurtanio Bandung, Rahmi Mudia Alty mengatakan, .elalui kegiatan sosialisasi ini pihaknya ingin mentransfer ilmu kepada masyarakat agar mampu mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai, yaitu magot.

“Ini bagian dari upaya kami dalam pengabdian kepada masyarakat. Program ini kami rancang dalam tiga tahap, yakni sosialisasi, evaluasi, dan produksi,” katanya.

Kendati saat ini masih dalam tahap sosialisasi, namun dalam tiga minggu ke depan pihaknya bakal mulai melakukan evaluasi hasil budidaya magot dari rumah tangga di RW 25.

“Tantangan utama dalam budidaya magot adalah pemilihan pakan. Magot cukup selektif, jadi warga perlu memastikan sampah organik yang digunakan adalah sisa makanan yang masih layak untuk dikonsumsi magot,” ucapnya.

“Kami berharap program ini dapat menciptakan siklus pengelolaan sampah yang berkelanjutan, terutama karena sampah organik menyumbang sekitar 80% dari total sampah di TPA Bandung dan Cimahi,” tandasnya. (Gani Abdul Rahman)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *