TEROPONG INDONESIA- Bandung Barat-, Di era digital dan dunia global saat ini, tugas guru atau guru yang ditugaskan khusus untuk menjadi kepala sekolah semakin berat. Sebab dihadapkan pada tantangan kehidupan yang semakin hedonis dan materialistis. Seperti kecenderungan kebahagiaan dan penghargaan atas manusia dihargai sebatas kepemilikan dan kesenangan material. Guru juga dihadapkan pada tantangan sosial, budaya, moral, politik, tuntutan masyarakat yang kian tinggi, namun apresiasi yang rendah.
Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah, tahun ini memperingatan Hari Guru Nasional Tahun 2025 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”

Media cetak dan online Teropong Indonesia berupaya menyempatkan wawancara tertulis bersama guru yang saat ini ditugaskan menjadi kepala sekolah, Ani Karolina, S.Pd., M.Pd., Kepala SMAN 1 Cipongkor, Bandung Barat.
Sebagai kepala sekolah yang sebelumnya adalah guru. Apa yang ingin diungkapkan di Hari Guru Nasional tahun ini? …
Sebagai Kepala Sekolah atau guru yang diberi tugas sebagai kepala Satuan Pendidikan formal untuk memimpin dan mengelola Satuan Pendidikan. Hal yang ingin diungkapkan di Hari Guru Nasional tahun ini adalah syukur yang luar biasa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat-Nya. Khususnya dengan bertambahnya keluarga baru untuk saya yakni keluarga besar SMAN 1 Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.
“Semoga kami bisa berkolaborasi dengan baik dalam upaya memajukan pelayanan pendidikan di Jawa Barat. Serta terima kasih yang tak terhingga pada seluruh guru di Indonesia yang telah berdedikasi dengan sangat baik dalam upaya memajukan pelayanan pendidikan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan ibu dan bapak guru” ucapnya yang menjadi harapan ke depan (30/11/2025)
Sedikit berbagi tentang perjalanan karir, saat menjadi guru selama ini, mungkin ada pengalaman yang paling berkesan atau prestasi yang diraih? …
Saat menjadi guru tentu ada banyak pengalaman yang berkesan bagi saya, di antara saya pernah turut merintis sekolah terbuka salah satu SMA negeri di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Saat itu kami mencari siswa siswi yang putus sekolah dari rumah ke rumah, kami mencoba mengajak mereka untuk kembali bersekolah. Ada anak yang antusias, namun ada juga anak yang harus kami dorong dan pantau terus perkembangannya.
Kami melakukan proses belajar mengajar tidak di ruang kelas, melainkan di tempat-tempat yang bisa terjangkau untuk mereka datangi, seperti masjid sekitar tempat tinggal mereka. Kelas di SMA Terbuka kami kadang penuh, kadang juga sepi. Saat kelas sepi saya langsung mendatangi rumah mereka untuk mengetahui kondisi atau kendala yang mereka alami. Semua itu tidak lain, karena saya ingin mereka terus bisa sekolah, apapun kondisi dan tantangannya saat itu. Rasa Bahagia, bangga, dan haru itu muncul saat mereka dinyatakan lulus dari bangku SMA, ternyata mereka bisa menyelesaikan pendidikannya. Walaupun dengan banyak cerita dibelakangnya. Hal tersebut merupakan salah satu prestasi bagi saya, karena berjuang bersama mereka melewati waktu tiga tahun itu tidak semudah bersama anak-anak sekolah regular. Tetapi dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah itu bisa dilalui.
Prestasi lain yang pernah saya raih adalah pernah menjadi juara 1 Chemistry Teaching Contest yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Kimia UPI bandung pada akhir tahun 2022.

Setelah resmi menjadi kepala sekolah, mungkin ada program jangka pendek atau panjang yang akan ditargetkan ke depan, setelah melihat profil SMAN yang ditempati? …
Setelah resmi menjadi kepala SMAN 1 Cipongkor dan melihat profil sekolah, ada program jangka pendek atau panjang yang akan ditargetkan ke depan. Di antara meneruskan program yang sudah berjalan yakni beberapa pembiasaan, seperti Senam Anak Indonesia Hebat setiap hari selasa. Prabu (Pramuka Belajar Baris-Berbaris di Hari Rabu). Kaliber (Kamis Literasi Bersama). SIP MANTAP (Sistem Peningkatan Iman Taqwa dan Kepribadian) setiap hari jumat, dan Poe Ibu (Sapoe Sarebu).
Selain itu insyaallah akan ada beberapa program baru. Seperti Pembuatan Karya Tulis Ilmiah Kelas XII, FGD kelas XII (untuk bekal persiapan kuliah atau bekerja), menambah ekstra kurikuler yang diminati dan diperlukan siswa/i di SMAN 1 Cipongkor. Program bank sampah, IHT Panca Waluya untuk guru dan siswa. Program koordinasi rutin dengan orang tua (parenting), puskesmas (pemeriksaan Kesehatan pelajar), kepolisian (pembuatan SIM bagi pelajar yang sudah cukup umur), TNI (bela negara), dan pemerintah setempat), dan Program Hafalan Alquran minimal 1 juz.
Berdasarkan data TKA terakhir, perkiraan berapa persen siswa yang minat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi?…
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dilatarbelakangi oleh kebutuhan adanya pelaporan capaian akademik individu murid dari penilaian yang terstandar. Berdasarkan data TKA terakhir di SMAN 1 Cipongkor, perkiraan siswa yang minat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi adalah sekitar 40 %.
Sebab mulai tahun 2026, nilai TKA menjadi syarat penting untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Sebagai validator nilai rapor, meskipun tidak wajib untuk seluruh jalur seleksi. Maka data tersebut menjadi bahan tambahan evaluasi sekolah, khususnya tentang motivasi pelajar melanjutkan ke peguruan tinggi.
Melihat fakta sebagai kepala sekolah yang ditempatkan dengan jarak dari domisili rumah dengan sekolah sekitar 4 jam perjalanan pergi dan pulang. Bagaimana menejemen kinerja untuk tetap maksimal disaat energi terkuras di perjalanan, serta beban oprasional kerja yang diprediksi naik?…
Melihat fakta sebagai kepala sekolah yang ditempatkan dengan jarak dari domisili rumah dengan sekolah sekitar 4 jam perjalanan pergi hingga pulang. Manejemen kinerja yang saya lakukan untuk tetap maksimal disaat energi terkuras di perjalanan dan beban oprasional kerja yang diprediksi naik adalah dengan mengoptimalkan atau mengefektifkan waktu bekerja di sekolah untuk mengerjakan TUPOKSI sebagai kepala sekolah. Saat bisa bekerja dengan menempuh perjalanan pulang pergi, saya pulang pergi (karena saya masih memiliki anak usia TK dan kebetulan suami adalah anggota POLRI yang kadang saat dinas tidak bisa pulang). Tapi saat saya merasa kelelahan untuk pulang pergi, saya menginap di sekolah. Seandainya saya sakit sampai tidak kuat berangkat ke sekolah, saya tetap bekerja jarak jauh dan berkoordinasi secara daring dengan para wakasek, yang terpenting TUPOKSI sebagai kepala sekolah harus tetap saya kerjakan dengan baik semampu saya.
Mungkin ada hal lain yang perlu diungkapkan selain dari yang dipertanyakan?…
“Cukup, terima kasih banyak. Semoga Pers / Media Massa bisa terus bekerja sama dengan sekolah, sebagai sarana publikasi kepada khalayak. Salam sehat dan bahagia” ungkapnya menutup pesan tertulis yang disampaikan kepada perwakilan media massa.





