TEROPONG INDONESIA, Bandung Barat– Aktivitas geologi di kawasan Lembang kembali memunculkan kekhawatiran. Gunung Batu yang terletak di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, mengalami kenaikan ketinggian secara bertahap akibat pergerakan Sesar Lembang patahan aktif sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Padalarang hingga Jatinangor.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono mengatakan, pengangkatan tektonik di Gunung Batu mencapai antara 120 hingga 450 meter.
Meski proses ini berlangsung dalam kurun waktu geologis yang panjang, peningkatan ketinggian tersebut merupakan bukti nyata bahwa Sesar Lembang masih sangat aktif dan menyimpan potensi bencana yang tidak bisa diabaikan.
“Pergerakan seperti ini menjadi indikator bahwa akumulasi energi di sepanjang sesar masih berlangsung. Ini adalah peringatan dini bahwa kawasan Bandung Raya berada di bawah ancaman nyata gempa bumi,” jelas Mudrik saat dihubungi, Rabu 27 Agustus 2025.
Gunung Batu sendiri berada tak jauh dari pusat Kota Bandung sekitar 15 hingga 20 kilometer dan hanya membutuhkan waktu 30 hingga 45 menit untuk dicapai menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.
“Lokasi yang dekat dengan kawasan wisata Lembang menjadikannya sangat rawan dari sisi kepadatan populasi dan kerentanan infrastruktur,” katanya.
Sesar Lembang telah lama menjadi perhatian para ahli geologi karena potensi gempa bumi yang besar.
Bahkan, beberapa simulasi menunjukkan bahwa jika patahan ini bergerak secara tiba-tiba, bisa terjadi gempa dengan kekuatan lebih dari magnitudo 6,5 yang berpotensi merusak wilayah padat penduduk di sekitarnya, termasuk Kota Bandung.
“Kenaikan Gunung Batu ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Ini adalah pengingat keras bahwa kita hidup di zona aktif secara geologis. Kesiapsiagaan, pemetaan risiko, dan edukasi masyarakat harus menjadi prioritas,” tambah Mudrik.
Dengan adanya temuan ini, Mudrik menekankan pentingnya penguatan sistem mitigasi bencana, mulai dari infrastruktur tahan gempa, penyusunan ulang tata ruang, hingga edukasi masyarakat secara berkelanjutan.
Gunung Batu kini bukan hanya menjadi objek wisata alam, melainkan juga menjadi “alarm alam” yang seharusnya mendorong semua pihak dari pemerintah hingga warga untuk lebih waspada terhadap potensi gempa besar di masa depan. (Gani Abdul Rahman)





