TEROPONG INDONESIA – Anggota Komisi VII sekaligus Badan Legislasi DPR RI, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono menyoroti pentingnya perbaikan konektivitas Kereta Cepat Whoosh Jakarta–Padalarang–Bandung.
Dalam peninjauannya, ia menilai potensi besar transportasi modern ini belum sepenuhnya termanfaatkan karena tidak terintegrasi dengan pusat transportasi strategis di Jakarta.
Menurut Bambang Haryo, hingga kini Kereta Cepat Whoosh belum terhubung langsung dengan Stasiun Sentral Gambir maupun Bandara Halim Perdanakusumah. Padahal, ia menekankan, akses menuju kedua titik tersebut sangat krusial.
“Jarak dari Halim Perdanakusumah sekitar 10 kilometer, sedangkan dari Stasiun Sentral Gambir sekitar 15,3 kilometer. Hal ini membuat masyarakat Jakarta harus menggunakan transportasi pribadi atau layanan publik berbiaya cukup mahal untuk mencapai stasiun Whoosh,” jelasnya saat ditemui di lokasi.
Berbeda dengan situasi di Padalarang, ia mengapresiasi konektivitas kereta cepat yang terintegrasi dengan transportasi feeder menuju Stasiun Bandung. Hal tersebut, menurutnya, memudahkan mobilitas masyarakat di Bandung.
“Sayangnya, masyarakat di Jakarta belum memperoleh akses serupa,” tambahnya.
Bambang menilai, jika ditopang sistem transportasi yang lebih terintegrasi, Whoosh memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan pariwisata antara Jakarta dan Bandung.
“Kereta cepat ini sebenarnya memiliki daya tarik kuat untuk sektor pariwisata. Namun, harus mulai dipikirkan konektivitas langsung menuju destinasi wisata di Jakarta, Bandung, maupun wilayah Karawang,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti keberadaan Stasiun Karawang yang dinilai tidak strategis. Menurutnya, lokasi stasiun tersebut jauh dari pusat fasilitas publik, industri, perdagangan, maupun kawasan perumahan.
Akibatnya, jumlah pengguna dari Karawang rata-rata tidak mencapai 1.000 penumpang per hari, meski Kabupaten Karawang memiliki populasi sekitar 2,5 juta jiwa.
“Seharusnya potensi penumpang dari Karawang bisa sangat besar. Namun karena lokasi stasiun kurang tepat dan tidak terkoneksi dengan pusat aktivitas warga, demand menjadi kecil. Ini membuat kereta cepat kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Karawang,” paparnya.
Selain itu, Bambang Haryo menyinggung belum optimalnya pengoperasian rangkaian kereta cepat. Dari 11 rangkaian kereta yang tersedia, hanya lima yang beroperasi setiap hari. Kondisi tersebut, katanya, dapat menimbulkan kerugian signifikan bagi pengelola.
“Sebagai contoh, WIKA pada tahun 2023 mengalami kerugian sekitar Rp7,12 triliun akibat belum optimalnya operasional Whoosh,” ucapnya.
Ia menegaskan, permasalahan ini menjadi tantangan penting bagi pemerintah dan pengelola untuk memperbaiki sistem transportasi pendukung.
Menurutnya, keberadaan Kereta Cepat Whoosh merupakan langkah modernisasi transportasi nasional yang harus dimaksimalkan agar tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Jika persoalan konektivitas dan integrasi transportasi dapat diselesaikan, saya yakin Whoosh akan menjadi tulang punggung baru mobilitas antarkota, mendukung pariwisata, serta meningkatkan daya saing ekonomi wilayah Jakarta, Bandung, dan sekitarnya,” tegas Bambang. (Gani Abdul Rahman)





