DLH Cimahi Waspadai Lonjakan Sampah Imbas Penimbangan Baru di TPA Sarimukti

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi kini tengah bersiap menghadapi perubahan signifikan dalam pengelolaan sampah menyusul diberlakukannya sistem penimbangan truk sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Sejak awal Agustus 2025, seluruh kendaraan pengangkut sampah dari wilayah Bandung Raya, termasuk Kota Cimahi, diwajibkan melewati jembatan timbang di zona perluasan TPA. Kebijakan ini mengubah metode pencatatan volume sampah yang sebelumnya berbasis estimasi dimensi truk menjadi berbasis data aktual dari hasil penimbangan.

Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menyebut bahwa sistem baru ini diperkirakan akan berdampak pada angka resmi tonase sampah yang dikirim dari Cimahi, khususnya karena karakteristik sampah kota tersebut cenderung basah dan berat.

“Kemungkinan besar mulai bulan ini akan terjadi peningkatan tonase yang tercatat. Karena sebelumnya data dihitung berdasarkan ukuran truk, sementara sekarang benar-benar ditimbang,” jelas Chanifah, Jumat (1/8/2025).

Saat ini, produksi sampah harian di Cimahi tercatat mencapai sekitar 231 ton dengan 17 ritase truk per hari. Dengan sistem penimbangan aktual, angka tersebut bisa berubah bahkan naik dan memicu kekhawatiran akan pembatasan kuota pembuangan di TPA Sarimukti.

Untuk mengantisipasi lonjakan dan menekan volume sampah yang harus dibuang ke TPA, DLH Cimahi menggencarkan upaya pengurangan sampah dari sumber. Strategi utama yang dijalankan adalah penguatan program pemilahan sampah di tingkat rumah tangga serta pengolahan mandiri di lingkungan masyarakat.

“Kampanye pemilahan dari rumah terus kami dorong. Masyarakat juga dilibatkan dalam pengolahan sampah organik dan anorganik melalui fasilitas yang sudah tersedia di lingkungan,” ujarnya.

DLH Cimahi juga mempercepat peningkatan kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce-Reuse-Recycle (TPST 3R). Sejumlah TPST kini dilengkapi dengan peralatan tambahan agar mampu melakukan pengolahan, bukan hanya sekadar pengumpulan.

“Kami ingin TPST 3R menjadi sentra pengolahan yang melibatkan partisipasi aktif warga, bukan hanya tempat buang sementara,” tambah Chanifah.

Di sisi lain, Pemkot Cimahi juga menunggu proses serah terima pengelolaan TPST Santiong dari pemerintah pusat. Fasilitas tersebut tengah dalam tahap perbaikan dan peningkatan kapasitas oleh Kementerian PUPR.

“Rencananya bulan depan akan diserahkan ke kami, tapi sekarang masih dalam tahap finalisasi peralatan. Saat ini belum beroperasi karena masih proses peralihan,” katanya.

Melalui berbagai langkah strategis ini, DLH Kota Cimahi berharap dapat mengurangi ketergantungan pada TPA regional dan menuju pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Harapannya, volume sampah ke TPA bisa ditekan, bahkan berkurang. Ke depan, Cimahi diupayakan bisa mandiri dalam pengelolaan sampah,” pungkas Chanifah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *