TEROPONG INDONESIA – Kartini tangguh, menjadi kata yang tepat untuk disematkan kepada 75 perempuan muda dari sejumlah daerah di Indonesia yang mengikuti kegiatan Women Jungle Survival Course (WJSC) 2025 yang diinisiasi EIGER Adventure.
Dihelat selama tujuh hari mulai dari 21-27 April 2025, kegiatan yang dilaksanakan di kawasan Gunung Galunggung, Desa Sukamukti, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya itu para wanita akan diajak untuk belajar, berlatih, dan mempraktikkan langsung ilmu survival di alam bebas.
Pada tahun 2022 dan 2024 lalu, WJSC diselenggarakan di Gunung Cakrabuana yang menjadi tapal batas antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Majalengka.
“WJSC 2025 ini adalah kursus jungle survival yang diinisiasi EIGER Adventure. Jadi, temen-temen perempuan ini dibekali ilmu mengenai survival, seperti membuat bivak, membuat api, mencari bahan makanan dari tumbuhan maupun hewan. Termasuk, medis dan navigasi,” kata Kepala WJSC 2025, Dini Hanifah saat ditemui di Basecamp Pinus Ciherang Kawasan Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Selasa 22 April 2025.
Tujuannya, sebut Dini, untuk membangun dan memperkuat mental para peserta, sehingga mereka bisa menjadi perempuan-perempuan tangguh yang mampu survive di berbagai lini kehidupan.
“Sebenarnya kalau kita belajar survival itu kan kita harus bisa survive dimana saja. Tapi, pasti ilmu ini sangat berguna bagi temen-temen yang hobi berkegiatan di alam terbuka,” sebutnya.
Sehingga, sambung Dini, tatkala nanti para peserta dalam kondisi terjebak dalam kondisi survival mereka tidak bingung dan panik harus melakukan apa.
Namun, dibalik itu juga kebetulan dua tahun ini menyelipkan psikologi alam terbuka, dimana dalam kegiatan ini mental survival mereka bisa terbentuk untuk kehidupan sehari-hari.
“Selain WJSC, ada beberapa kegiatan rutin seperti EIGER Mountain & Jungle Course (MJC). Di MJC ini pesertanya dicampur ada perempuan dan laki-laki,” katanya.
“Sedangkan alasan WJSC ini karena kita ingin ada kegiatan khusus perempuan karena stereotipenya banyak, seperti lemah, beban tim.
Kendati demikian, dengan diberikannya pelatihan yang notabene spesifik tentu diharapkan bisa membangkitkan kepercayaan diri mereka.
“Mereka juga diharapkan bisa berperan dalam tim mereka. Baik itu tim pendakian khusus perempuan maupun yang campur dengan teman-teman mereka yang lain,” ujarnya.
Terkait animo peserta, ungkap Dini, jumlah peserta kian meningkat, hanya saja lantaran adanya keterbatasan kuota, daya dukung latihan dan sumber daya pihaknya sehingga kuotanya dibatasi.
“Jadi memang peserta dalam WJSC ini hanya 75 orang. Secara keseluruhan yang mendaftar itu ada 750 peserta dari berbagai macam latar belakang,” ungkapnya.
“Mereka ada ibu rumah tangga, karyawan, guru, mahasiswi. Tapi, mereka ini adalah perempuan-perempuan yang memang aktif berkegiatan di outdoor, khususnya yang aktif kegiatan pendakian,” sambungnya.***





