Apa Tantangan dan Peluang Pendidikan Olahraga di Era Society 5.0, ini Penjelasan Prof.Akhmad Sobarna

Prof.Dr.Akhmad Sobarna, S.Pd, M.M,Pd. (Tengah) bersama kekuarga. Foto. Dok.(Istimewa).*

Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial. Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan siswa serta merangsang interaksi siswa dengan siswa lainnya, harus menjadi pertimbangan utama.

Adapun pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang – cabang olahraga tertentu. Kepada siswa diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan di sini adalah “hasil” dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai. Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses pembelajaran. Yang sering terjadi pada pembelajaran “pendidikan olahraga” adalah bahwa guru kurang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan siswa. Jika siswa harus belajar bermain bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli secara langsung. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan, sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan anak kurang diperhatikan.

Melihat perbedaan kedua konsep tadi secara singkat, jelas nampaknya terlihat bahwa pada dasarnya antara Pendidikan jasmani dengan Pendidikan olahraga memiliki beberapa perbedaan dalam segi implementasinya. Pendidikan Jasmani tentu tidak bisa dilakukan dengan cara pendidikan olahraga. Pendidikan jasmani adalah suatu proses yang terencana dan bertahap yang perlu dibina secara hati-hati dalam waktu yang diperhitungkan. Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan meningkatkan individu secara organik, neuromuscular, intelektual dan emosional melalui aktivitas fisik. Artinya program pendidikan jasmani merupakan sebuah program pendidikan melalui aktivitas gerak atau permainan dan olahraga, dimana dalam pelaksanaannya mengandung arti bahwa gerakan, permainan atau cabang olahraga tertentu dipilih hanya sebagai alat untuk mendidik.

Bila orientasi pelajaran pendidikan jasmani adalah agar anak menguasai keterampilan berolahraga, misalnya sepak bola, guru akan lebih menekankan pada pembelajaran teknik dasar dengan kriteria keberhasilan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini, guru tidak akan memperhatikan bagaimana agar setiap anak mampu melakukannya, sebab cara melatih teknik dasar yang bersangkutan hanya dilakukan dengan cara tunggal. Beberapa anak mungkin bisa mengikuti dan menikmati cara belajar yang dipilih guru tadi. Tetapi sebagian lain merasa selalu gagal, karena bagi mereka cara latihan tersebut terlalu sulit, atau terlalu mudah.

Melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif, semua kecenderungan tadi bisa dihapuskan, karena guru memilih cara agar anak yang kurang terampil pun tetap menyukai latihan memperoleh pengalaman sukses. Di samping guru membedakan bentuk latihan yang harus dilakukan setiap anak, kriteria keberhasilannya pun dibedakan pula. Untuk “kelompok mampu‟ kriteria keberhasilan lebih berat dari anak yang kurang mampu, misalnya dalam pelajaran renang di tentukan: mampu meluncur 10 meter untuk anak mampu, dan hanya 5 meter untuk anak kurang mampu.

Dengan cara demikian, semua anak merasakan apa yang disebut “perasaan berhasil” tadi, dan anak makin menyadari bahwa kemampuannya pun meningkat, seiring dengan seringnya mereka mengulang-ulang latihan.

Nah.., sedangkan dalam konsep Pendidikan Olahraga atau bisa dikenal dengan sebutan Sport Education itu ialah suatu Kurikulum dan atau model pengajaran yang dirancang untuk penyampaian program pendidikan jasmani di tingkat sekolah dasar dan menengah, sebagai bagian dari proses pendidikan untuk mengembangkan dan membina potensi jasmani dan rohani seseorang sebagai individu atau anggota masyarakat, sehingga nantinya orang tersebut akan merasa senang untuk berolahraga, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Internasional Council of Sport and Physical Education mengatakan bahwa pendidikan olahraga dapat diartikan sebagai setiap aktivitas fisik berupa permainan dan berisikan pertandingan melawan orang lain, diri sendiri ataupun unsur-unsur alam.

Tujuan dari pendidikan olahraga yaitu untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan jasmani maupun rohani pada setiap manusia. Selain itu, pendidikan olahraga juga bertujuan untuk melahirkan sosok warga negara yang sportif, jujur dan sehat, bukan sosok warga yang bringas, sadis, dan brutal. Namun lebih dari itu, pada hakekatnya tujuan dari pendidikan olahraga itu sendiri sebetulnya adalah untuk mempersatukan peserta didik dalam rangka memajukan olahraga yang ada saat ini.

Model ini juga pada dasarnya agar dapat membuat peserta didik memiliki sifat yang kompetitif, dapat melatih keterampilan motorik, melatih keterampilan khusus olahraga yang diajarkan kepada peserta didik agar dapat berprestasi dan memenangkan kejuaraan. Maka dari itu, segala materi yang diajarkan dalam ruang lingkup pendidikan olahraga adalah hanya sebatas pada teknik-teknik di cabang olaharaga yang dipelajarinya, serta menggunakan aturan yang sudah menjadi standar agar mereka merasakan seperti ada pada situasi dan kondisi perlombaan/pertandingan yang sesungguhnya. Singkatnya adalah bahwa pendidikan olahraga merupakan pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu.

Jadi antara pendidikan jasmani dan olahraga sering dikatakan ada interface, tidak sama namun ada bagian-bagian yang sama. Jelas keduanya adalah aktivitas fisik, tegasnya aktivitas otot-otot besar atau big muscle activity, bukan fine muscle activity. Oleh karena itu, dalam penerapannya tetap berlandaskan pada suasana kependidikan, serta berpegang pada kaidah-kaidah dalam praktek pendidikan.

Maka dari itu, mari kita coba runtun setiap pembahasan tadi menggunakan pendekatan analisis SWOT, sehingga nanti kita akan mendapatkan hasil kajian bagaimana menanggapi tantangan dan memanfaatkan peluang pada sektor Pendidikan Olahraga di era Society 5.0 ini.

Sedikit pengulasan mengenai analisis SWOT itu sendiri adalah merupakan suatu metode atau cara dalam mengidentifikasi berbagai kekuatan, kelemahan, peluan dan ancama pada suatu organisasi. Walaupun banyak teori yang menyebutkan bahwa kebanyakan penggunaan analisis SWOT ini digunakan untuk bidang bisnis di perusahaan, namun secara realnya teknik analisis ini juga bisa digunakan di sektor-sektor lain. Khususnya pada bidang olahraga, analisis SWOT juga sudah banyak digunakan dalam beberapa penelitian dalam merencanakan strategi untuk kemajuan dan peningkatan olahraga. Maka dari itu, Sekarang mari kita bahas satu persatu.

Strenght (Kekuatan)

1. SDM (Para Akademisi & Praktisi) yang berkualitas

Para pakar di bidang Pendidikan Olahraga, khususnya di Indonesia sangat banyak dan cukup memiliki kompetensi yang berstandar, baik nasional maupun internasional. Ini nampaknya menjadi salah satu kekuatan yang kita miliki. Tidak hanya itu, para programer atau pembuat web dan aplikasi, kiranya kita memiliki banyak sekali talenta.

2. Penggunaan gedget yang semakin meningkat. Ini juga menjadi salah satu kekuatan yang bisa kita gunakan, terutama dalam percepatan informasi terkait dengan penyebarluasan program pendidikan olahraga.

3. Kebijakan Pemerintah mengenai Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang sekiranya harus mulai dari sekarang harus diimplementasikan, sehingga kebijakan tersebut juga nampaknya bisa menjadi salah satu kekuatan untuk mengatasi tantangan di era Society 5.0.

4. Hasil riset yang menunjukan, bahwa generasi milenial lebih tertarik atau suka dengan kegiatan olahraga.

Weakness (Kelemahan)

1. Fasilitas yang terkadang masih sangat minim di setiap satuan pendidikan, tidak hanya mengenai sarana dan prasarana, tetapi juga keluasan akses internet yang masih sangat terbatas dan belum merata.

2. Kurang dilibatkannya orang tua sebagai pengawas dan pengontrol peserta didik di luar sekolah, sehingga tidak peserta didik justru menampilkan karakter yang kurang baik di luar sekolah.

Oportunity (Peluang)

1. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang begitu pesat, karena ini akan menjadi peluang bagi para pelaku di sektor pendidikan olahraga untuk bisa berkolaborasi dengan para pelaku usaha ataupun industri olahraga untuk membuat platform digital, sebagai langkah dalam meningkatkan pengetahuan dan partisipasi masyarakat untuk berolahraga.

2. Kampanye melalui jalur Formal dan Non formal. Hal tersebut maksudnya adalah, sekarang ini sudah mulai dibentuknya sekolah-sekolah khusus olahraga di beberapa daerah, seperti di Jakarta, Sumatera Selatan, Riau, Aceh, Jawa Timur dan Kalimantan Timur, ini akan menjadi peluang untuk meningkatkan tujuan pendidikan keolahragaan kita.

Threats (Ancaman)

1. Games (Permainan-Permainan) digital yang semakin banyak, yang cenderung akan lebih menarik minat pengguna, terutama dikalangan anak-anak sampai dewasa. Ini kiranya yang menjadi ancaman, khususnya di sektor pendidikan olahraga, karena dikhawatirkan akan mengurangi aktivitas fisik masyarakat dan akhirnya menyebabkan penurunan kembali indeks kebugaran jasmani masyarakat.

2. Berkurangnya jam pelajaran olahraga di sekolah, khususnya ini terjadi di kelas XII. Bahkan ada isu yang sempat beredar bahwa mata pelajaran olahraga ini akan ditiadakan bagi siswa di sekolah menengah atas, khususnya kelas XII, dengan alasan agar bisa konsentrasi pada ujian akhir sekolah.

Berdasarkan kajian dari analisis SWOT tersebut, nampaknya sudah dapat tergambarkan hal apa yang sekiranya bisa kita lakukan untuk menghadapi tantangan dan membaca peluang tersebut. Setidaknya disini saya akan memberikan dua hal yang sekiranya menjadi sangat penting untuk dilakukan, yaitu :

Pertama, berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan suatu keterampilan dalam mengolah berbagai informasi dan fakta secara rasional dan sistematis guna memperoleh kesimpulan yang akurat dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pengolahan di sini dimaksudkan sebagai suatu upaya menghubungkan, membandingkan, dan atau mengevaluasi antara informasi dan fakta. Oleh karena itu, data menjadi hal yang sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan.

Perlu kiranya membuat suatu ekosistem dikalangan para pelaku olahraga, baik guru, para pelatih, akademisi dan praktisi lain untuk mampu berpikir kritis yang memungkinkan tanggung jawab profesional terinternalisasi menjadi sebuah kebiasaan dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari. Disinilah diperlukan yang namanya penalaran logis, interpretasi, analisis, dan evaluasi informasi yang akurat untuk membuat keputusan yang dapat diterima dan dapat diandalkan oleh sebagian besar pihak.

Kedua, adalah Inovasi. Sebagaimana kita ketahui bahwa suatu upaya dalam memperbaiki sesuatu hal tidak hanya berhenti dengan berpikir kritis saja, namun harus ada langkah nyata selanjutnya yang tentunya berpedoman pada cara berpikir kritis tadi, yaitu adalah dengan cara berinovasi atau melakukan pembaharuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru baik berupa perangkat atau cara kerja. Perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan di zaman sekarang ini, tentunya menjadi peluang dalam memberikan ruang seluas-luasnya bagi para pelaku olahraga untuk melakukan inovasi. Materi dari guru atau penagajar tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, namun sekarang dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar yang lain seperti internet, youtube, website, dan beberapa media sosial. Sumber belajar ini sangat mudah diakses oleh peserta didik, dimana diawal sudah ditampilkan data mengenai penggunaan gedget yang telah megalami peningkatan, dan tentunya yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

Karena, jika guru hanya mengandalkan pertemuan formal mingguan 2×40 menit, kecil kemungkinan tujuan pembelajaran akan tercapai, terutama terkait peningkatan kebugaran jasmani siswa. Oleh karena itu, diperlukan upaya nyata seperti membuat program aktivitas fisik harian agar siswa mempunyai gerak yang cukup. Kegiatan aktivtas harian ini sebagian besar dilakukan di luar sekolah dengan pantauan guru atau pelatihnya. Namun kiranya, jika pemantauan tersebut dilakukan secara tradisional tentu saja besar kemungkinan untuk tidak dapat dilakukan secara optimal, apalagi dalam menghadapi jumlah siswan yang banyak. Maka dari itu, disinilah kiranya perlu dilakukannya tindakan kolaborasi untuk membuat perangkat teknologi seperti misalnya “Pemantau Aktivitas Fisik Harian” yang dapat memonitor aktivitas fisik para penggunannya. Dengan perangkat tersebut, guru dapat dengan mudah memantau aktivitas fisik siswa secara akurat dan akuntabel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *