Apa Tantangan dan Peluang Pendidikan Olahraga di Era Society 5.0, ini Penjelasan Prof.Akhmad Sobarna

Prof.Dr.Akhmad Sobarna, S.Pd, M.M,Pd. (Tengah) bersama kekuarga. Foto. Dok.(Istimewa).*

Dan jika dilihat berdasarkan Gender/Jenis Kelamin nampaknya terjadi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, dimana tingkat partisipasi berolahraga perempuan lebih kecil daripada laki-laki. Hal tersebut berdampak pada Tingkat Kebugaran Jasmani masyarakatnya, dimana dihasilkan fakta mengejutkan bahwa sebanyak 77,12% usia anak menuju remaja awal (10-15 tahun) memiliki tingkat kebugaran jasmani yang kurang sampai kurang sekali, serta lebih parah lagi bahwa data menunjukan sebanyak 83,55% pada usia remaja sampai dewasa (16-30 tahun) memiliki tingkat kebugaran jasmani dengan kategori kurang sampai kurang sekali.

Hal tersebut menandakan bahwa secara umum masyarakat Indonesia jarang sekali melakukan aktivitas olahraga, sehingga berdampak pada kebugaran jasmaninya

Jika dilihat dan dianalisis dari berbagai sumber, terlihat ada dua faktor besar yang kiranya menghambat masyarakat kurang beraktivitas olahraga, sehingga mengalami kualitas kebugaran jasmani yang kurang baik. Pertama adalah karena menganggap tidak punya waktu untuk melakukan aktivitas olahraga. Dilansir dari IPSOS 2021 tentang “Global Views on Sport and Exercise” sebanyak 37% masyarakat beranggapan bahwa hambatan untuk tidak olahraga adalah tidak punya waktu. Yang sebetulnya kemungkinan besar masalah ini relevan dengan situasi perkembangan zaman sekarang ini, dimana orang-orang sekarang ini lebih sibuk dengan gedget nya masing-masing ketika ada waktu luang, dibandingkan dengan menggantinya dengan berolahraga.

Peryataan ini didasarkan pada hasil survei yang bersumber dari detik.com, yang menyajikan data bahwa Indonesia di tahun 2023 kemarin jumlah penggunaan internet mencapai angka 212,9 juta. Angka tersebut mengalami pertumbuhan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Berdasarkan data yang dirilis We Are Social menyebutkan total populasi Indonesia mencapai 276,4 juta jiwa, dimana penduduk Indonesia yang berselancar di dunia maya itu ada 212,9 juta pengguna yang mana itu mengalami kenaikan 5,2% atau 10 juta dari tahun 2022.

Pengguna internet Indonesia menghabiskan waktu rata-rata selama 7 jam 42 menit dalam seharinya. Berbicara mengenai perangkat untuk internetan, orang Indonesia masih dominan dilakukan lewat gadget atau smartphone dengan rata-rata waktu 4 jam 53 menit. Kalau menggunakan perangkat lain seperti komputer dan tablet hanya 2 jam 49 menit.

Data tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan masyarakat itu tidak memiliki banyak waktu karena hampir 30% digunakan untuk “Screen Time” atau hanya sekedar melihat layar di Handphone. Padahal, dari beberapa hasil penelitian disebutkan bahwa anak-anak yang kurang gerak akibat screen time yang berlebihan berpotensi menderita sindrom metabolik di masa dewasa. Mereka juga memiliki risiko tinggi mengalami obesitas dan kebugaran fisik yang rendah.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan dan menjadi PR serta tantangan kita bersama, khususnya para praktisi olahraga, untuk mencari strategi mengenai bagaimana membuadayakan olahraga yang teratur kepada masyarakat, sehingga kebugaran jasmaninya dapat meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *