KH. Muhammad S.H.I, M.H Kepala SMK Miftahul Huda Banyumas Ungkapkan Dampak Negatif Larangan Study Tour

TEROPONG INDONESIA-, Dengan adanya kejadian musibah yang menimpa kecelakaan salah satu Sekolah mengakibatkan meninggalnya sejumlah 11 orang. Banyak kalangan yang berpendapat tidak perlunya study tour, dengan alasan tidak ada manfaatnya, biaya yang mahal, hanya senang senang dan ada lagi yang mengatakan cari keuntungan.

KH. Muhammad S.H.I, M.H Kepala SMK Miftahul Huda Rawalo Banyumas menyampaikan padahal study tour sudah ada semenjak zaman dulu, waktu saya kecil baik di TK. SD. SLTP SLTA atau kuliah, kebanyakan pasti mengadakan acara tersebut ?… Pasti ingat kenangannya, kapan dan di mana diadakan atau tempat tujuannya.

“Adanya kejadian kecelakaan yang mengakibatkan meninggal nya 11 orang itu banyak faktornya. Penyebabnya bisa human error, Bus yang tidak layak untuk perjalanan jauh, jalan yang curam atau kurang hati-hati. Kelelahan sopir dan faktor yang lainnya,” ucapnya melalui keterangan tertulis yang diterima Koran SINAR PAGI (20-5-2024)

Menurutnya musibah bisa terjadi kapanpun dan dimanapun, walau sudah sangat berhati-hati, tetap saja terkena musibah. Sebagai mana Firman Allah.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

KH. Muhammad S.H.I, M.H mengajak mari kita petik hikmah dan yakini kejadian itu sebagai ujian, serta bisa mengevaluasi apa yang harus diperbaiki dari kejadian kecelakaan itu dan harus dipersiapakan dengan matang sebelum study tour dilaksanakan. Misalnya mulai dari melihat armada Busnya dengan teliti dan cermat, apakah layak untuk perjalan jauh serta perjalanan yang naik turun di perbukitan.

Baca Juga :  Wapres RI Ungkapkan 4 Keberkahan Ramadhan

“Sudah semestinya kita harus bijak mensikapinya dan jangan menyalahkan salah satu pihak. Apalagi yang menyelenggarakan sekolah sudah merencanakan, mendiskusikan keberbagai pihak, baik orang tua, guru dan biro travel. Sekolah dan pastinya sudah jauh-jauh hari, pastinya dipersiapkan. Kalaupun terjadi hal yang tidak diinginkan. Semua itu musibah dan siapapun bisa terkena musibah. Sudah berhati hati, tetap saja di jalan terjadi sesuatu”,ungkapnya.

Ada kalanya Study Tour tetap diadakan dengan alasan banyak manfaatnya, seperti tadabbur alam, bisa mempraktikkan praktik ibadah seperti Sholat Qoshor, mengetahui aneka ragam budaya yang ada di Indonesia.

Misalnya ketika kunjungan ke Taman Mini Indonesia, mengetahui Indanya Masjid Istiqlal tempat ibadah ummat islam, mengunjungi tempat sejarah pahlawan yang ada di Jakarta, seperti di Lubang Buaya Jakarta. Sebagai bangsa yang besar, anak-anak sebagai generasi kedepan harus tahu sejarah bangsa Indonseia.

Selain itu bisa mengunjungi tempat yang bisa memberikan pengetahuan tentang perkembangan teknologi, seperti teropong bintang yang ada di Lembang, jadi kalau kita berpikir banyak segi positifnya ketika kita mengadakan study tour itu.

KH. Muhammad S.H.I, M.H menyimpulkan maka boleh saja study tour itu diadakan dengan mempertimbangkan biaya sesuai dengan kondisi orang tua. Kondisi Bus yang harus layak diperjalanan dan memilih tempat study tour yang banyak pendidikannya untuk siswa dan lokasi yang bisa menambah wawasan pelajar lulusan sekolahnya. Lalu diadakan dengan panitia penuh tanggung jawab. Pakai biro travel yang profesional dan yang terakhir berdo’a kepada yang Maha Kuasa.

“Semoga kita dapat mensikapi masalah dengan bijaksana dan jangan menyalahkan atau menyudutkan berbagai pihak. Karena bisa saja imbas bila study di tour ditiadakan tempat Edukasi sepi, seperti di Planetarium Jakarta.TMII, Taman Pintar Jogja dan yang lainnya”, ucapnya.

Baca Juga :  Dr. H.Budi Setiadi M.Si : "BAKTI Bumdes Membangun Bisnis Berbasis Digital di Desa 3 T"

Selain itu biro travel, warung makan atau oleh-oleh, Bus pariwisata hingga objek wisata, jumlah pengunjungnya akan menurun dratis dan bisa saja sampai PHK karyawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *